Showing posts with label iip. Show all posts
Showing posts with label iip. Show all posts

Saturday, 22 April 2017

(Hari 1) Mengenal Tata Surya

Pengalaman pertama saya pada pengamatan gaya belajar anak saya, Javas, dimulai dengan tema mengenal tata surya. Sebenarnya ini bukan pengamatan yang berlangsung dalam satu waktu saja; tetapi pengamatan ini sudah saya lakukan dalam beberapa waktu pada saat ini dan lalu. Pun pengamatan itu meliputi ketiga gaya belajar, yaitu visual, audio, dan kinestetik. 

Pada pengamatan audio-visual, saya sering membacakan buku mengenai tata surya. Beberapa buku yang mendukung tema tata surya ini adalah: 
The Solar System: A Lift-the-flap-book

Confidence in Science (CIS): Apa Saja Anggota Keluarga Matahari?

Aku Ingin Tahu Mengapa (ATM): Bintang Berkelip

Pada pengamatan visual saja, di rumah saya menyiapkan kartu tiga bagian dengan tema tata surya. Kartu tiga bagian ini adalah salah satu aparatus yang biasa digunakan dalam pembelajaran dengan metode Montessori. Jadi melalui kartu tiga bagian ini, anak-anak akan belajar mengenai bentuk dari anggota tata surya; sekaligus sebagai kegiatan pra-membaca dan pra-matematika. Beginilah penampakan kartu tiga bagian tersebut: 

Kartu Tiga Bagian (Three Part Cards) Tata Surya
Pada pengamatan kinestetik, saya dan suami pernah mengajak Javas ke Planetarium, Jakarta. Saat itu Javas senang sekali. Namun sayangnya, menurut saya, di Planetarium tidak banyak menyajikan hal-hal atau kegiatan yang bisa merangsang kinestetik anak dalam mengenal tata surya. Mungkin lain waktu, kami akan coba ke Mini Planetarium di TMII. Semoga hasilnya tidak mengecewakan. 


#Tantangan10Hari
#Hari1
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Saturday, 15 April 2017

Aliran Rasa Family Project

Alhamdulillah saya telah menyelesaikan tantangan pada game Family Project. Banyak sekali perasaan yang bercampur selama saya menyelesaikan tantangan ini. Perasaan itu dimulai dengan perasaan tidak yakin bisa menyelesaikan tantangan ini dengan sempurna; sampai perasaan tergesa-gesa harus menyelesaikan tantangan karena waktu semakin menipis, sedangkan saat itu jadwal saya lumayan padat.

Beruntung sekali karena Allah memberikan saya partner hidup yang bisa mendukung perubahan baik bagi diri saya dan keluarga kecil kami. Pada awalnya saya ceritakan tentang tantangan ketiga ini, saya yakin sebenarnya beliau blank tentang ide-ide yang akan kami jadikan project. Tapi beliau mau berusaha untuk mencari ide, walaupun akhirnya idenya tidak berhasil kami jadikan project; dan mau untuk mengikuti project-project yang sudah saya rencanakan. Selain itu, beliau juga yang menjadi eksekutor pada hampir setiap sesi 'tea time' dari project yang sudah dilaksanakan.

Sampai akhirnya 10 hari tantangan pada game level 3 ini bisa saya selesaikan; itu semua karena peran suami saya dan juga kedua anak kami yang senantiasa ikut serta dalam setiap project. Pada game level 3 ini, saya merasa belum benar-benar mengoptimalkan kemampuan saya; seperti yang saya sebutkan di awal, karena waktunya bentrok dengan jadwal lainnya. Tapi untuk 7 tantangan lainnya, saya ber-azzam pada diri saya untuk bisa menyelesaikan dengan sempurna dan mengoptimalkan kemampuan dalam diri saya.


#AliranRasa
#GameLevel3
#MyFamilyMyTeam
#BundaSayang
#IIP

Friday, 7 April 2017

Family Project 5: Silaturahmi

Siang tadi, saya mengajak anak-anak berkunjung ke tetangga kami yang rumahnya berjarak satu rumah ke kiri. Sebelum mengajak anak-anak, saya jelaskan tujuan kami berkunjung dan peraturan selama kami berkunjung ke sana.

Saya bilang ke mereka: Hari ini kita akan bersilaturahmi ke rumah Kakak Fanny ya. Karena bundanya kakak Fanny baru saja melahirkan adik bayi. Tapi sebelum ke sana, kita ke toko perlengkapan bayi dulu ya. Kita mau beli kado buat adiknya kakak Fanny. Nanti selama dijalan dan di rumah kakak Fanny, abang sama adik tenang ya; supaya bunda bisa mengobrol dengan tenang sama bundanya kakak Fanny.

Singkat cerita akhirnya kami membeli kado dan berkunjung ke rumah Kakak Fanny. Setelah sampai di rumah kakak Fanny, alhamdulillah anak-anak bisa mematuhi peraturan yang saya berikan sebelumnya. Yaaa, walaupun satu atau dua kali masih harus diingatkan, seperti ketika abang tiba-tiba nyelonong ke dapur mereka dan naik-naik di sofa; atau adik yang tidak mau masuk ke dalam rumah, tapi malah main di dekat pagar.

Project ini sebenarnya sudah kami bicarakan sekitar tiga atau empat hari lal; ketika kami melihat tetangga kami tersebut sibuk dengan mobil mereka dan beberapa tas. Owh, mungkin sudah waktunya persalinan, batin saya saat itu. Lalu ketika malamnya kami persiapan mau tidur, saya cerita ke suami saya dan beliau bilang: Yawdah bun, nanti kalau Mama Fanny sudah pulang, ajak anak-anak berkunjung ke sana ya, bun. Sambil sebelumnya dijelaskan ke anak-anak tentang sunnah Rasulullah untuk berbuat baik kepada tetangga. Alhamdulillah niat tersebut bisa kami laksanakan hari ini.


#TantanganHari9
#GameLevel3
#MyFamilyMyTeam
#IIP

Thursday, 6 April 2017

Family Project 4: Aneka Karbo (Day 5)

Alhamdulillah, hari ini memasuki hari terakhir dari proyek keempat dalam keluarga kami. Pada hari terakhir ini, tadinya saya berencana mau memperkenalkan talas kepada anak-anak kami. Hanya saja, ketika saya mencari di warung sayur pada pagi hari, ternyata talas tidak tersedia.

Maksud hati ingin mengajak anak-anak ke pasar untuk membeli talas. Sayangnya, keadaan fisik saya sedang kurang sehat. Alhasil, pengenalan talas pada hari ini tidak jadi saya laksanakan. Meskipun begitu, saya tetap memperkenalkan talas melalui foto dari internet.

Karena ini hari terakhir, sekalian saja saya menyimpulkan dan me-recall informasi tentang jenis-jenis pengganti karbohidrat yang sudah dicicipi oleh anak-anak. Saya juga menanyakan bagaimana perasaan mereka dalam menjalani proyek kali ini. Sulung sayang menyatakan bahwa dia kurang suka dengan rasa beberapa karbohidrat pengganti nasi, seperti ubi. Tapi untuk jagung dan kentang, dia sangat suka sekali. Sedangkan bungsu saya menyatakan, dia suka semua jenis karbohidrat pengganti nasi.

Saya sangat senang sekali mendengar perasaan mereka. Semoga proyek ini menjadi pengalaman berharga untuk mereka.


#TantanganHari8
#GameLevel3
#MyFamilyMyTeam
#IIP

Family Project 4: Aneka Karbo (Day 4)

#LatePost

Hari ini memasuki hari keempat dari project keempat kami. Seharusnya, hari ini jadwal perkenalan singkong dalam menu makanan anak-anak kami. Singkong yang bagus-bagus sudah saya pilih dari tukang sayur dan sudah saya bersihkan. Ketika pagi hari setelah anak-anak bangun dan akan saya eksekusi singkong tersebut, dengan menu singkong kukus meleleh (karena akan ditambahkan melted cheese di atas singkong), ternyata Abang Javas agak butuh perhatian lebih dari saya. 

Ketika bangun tidur, Javas mengeluhkan kalau matanya gatal dan sakit. Memang beberapa hari ini saya perhatikan bahwa matanya sering kedip-kedip. Mungkin hanya kelilipan debu, pikir saya. Tapi lama kelamaan, kok kedipnya jadi semakin sering. Dan pagi inilah dia bilang kalau matanya tidak nyaman. Saya perhatikan tidak ada merah atau bengkak; ketika saya sentuh pun, menurutnya tidak sakit. 

Ya sudahlah, karena keadaan mood Javas yang sedang tidak baik. Jadilah rencana hari ini saya batalkan. Seperti biasa, kalau Javas sedang tidak nyaman, seharian dia pasti akan sangaaaat manja sekali pada saya. Akhirnya, kegiatan memakan singkong pun kami ganti dengan bercerita tentang singkong. 

Saat bercerita, saya menceritakan saja informasi sepengetahuan saya tentang singkong. Karena memang saya belum menyiapkan informasi yang detail atau pun print out gambar singkong atau pohon singkong. Meskipun begitu, Alhamdulillah anak-anak tetap senang mendengarnya dan penasaran untuk bermain ke kebun singkong. Hehehe. Insya Allah ya, Nak. Bunda cari-cari dulu di sekitar rumah kita, daerah mana yang masih banyak pohon singkongnya. Hehehehe. 


#TantanganHari7
#GameLevel3
#MyFamilyMyTeam
#BundaSayang
IIP

Sunday, 2 April 2017

Family Project 4: Aneka Karbo (Day 1)

Pada Family Project yang keempat ini, kami akan memperkenalkan berbagai jenis karbohidrat kepada anak-anak kami. Ide untuk melaksanakan projek ini muncul karena kesadaran kami, sebagai orang tua, bahwa Indonesia adalah negara agraris yang tanahnya sangat subur dan bisa ditanami apa saja. Oleh karena itu, kami pun ingin mendidik anak-anak kami untuk lebih mencintai negerinya dengan segala keberkahan yang diberikan Allah kepada Indonesia. Salah satu tujuan dari proyek ini adalah memperkenalkan berbagai panganan lokal, selain beras, yang bisa dikonsumsi sehari-hari sebagai pemenuh kebutuhan karbohidrat tubuh.

Project keempat ini pula berjalan lurus dengan salah satu tema dalam homeschooling kami, yaitu mengenal Indonesia; mulai dari letak geografis, kepulauan yang dimilikinya, dan juga potensi alam yang ada padanya. Semoga dengan kegiatan ini, anak-anak kami semakin mencintai negeri mereka dan semakin bersyukur kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Family Project 4: Perkenalan Aneka Karbohidrat

Penanggung Jawab: Bunda

Pelaksana: Bunda, Javas, dan Hizli

Pembagian Tugas:
Bunda bertugas membeli bahan dan menyiapkan bahan
Javas dan Hizli bertugas mengamati selama proses persiapan bahan dan mencicipi setelah matang

Alat dan Bahan: seperangkat panci, pisau, jagung, kentang, ubi, singkong, talas, air (untuk merebus atau mengukus), sendok, piring

Waktu Pelaksanaan:

Hari 1, Minggu 2 April 2017
Pengenalan Jagung

Hari 2, Senin 3 April 2017
Pengenalan Ubi

Hari 3, Selasa 4 April 2017
Pengenalan Kentang

Hari 4, Rabu 5 April 2017
Pengenalan Singkong

Hari 5, Kamis 6 April 2017
Pengenalan Talas

Hasil Pengamatan
Hari 1
Anak-anak merasa antusias sekali menyambut proyek kali ini. Terlebih lagi, mereka senang karena mereka dilibatkan dalam proses pembelanjaan bahan-bahan, yaitu pergi ke warung sayur. hehehehe.

Saat saya menyiapkan jagung untuk direbus, Javas dan Hizli selalu menemani saya di dapur dan memperhatikan semua hal yang saya kerjakan. Lalu munculah banyak pertanyaan dari mereka. Seperti: Bunda, kok jagung berlapis-lapis bungkusnya? Kenapa jagung punya rambut juga seperti kita? Kok warna rambut jagung nggak hitam, sih? Kenapa jagungnya harus dipotong bunda? Kenapa harus direbus? Jagung bisa digoreng kan? Dan masih banyaaaak pertanyaan unik lainnya yang keluar dari mulut mereka.

Selesai proses memasak dan memakan jagung tersebut, mereka merasa senang dan berpesan sama saya, bahwa besok-besok mereka mau lagi untuk sarapan jagung kukus dengan taburan keju parut, mentega, dan susu kental manis. Alhamdulillah.


#TantanganHari4
#GameLevel3
#MyFamilyMyTeam
#IIP

Tuesday, 28 March 2017

Family Project 2: Makan Siang Bersama

Alhamdulillah hari ini tanggal merah; sehingga suami saya tidak kerja. Jadilah proyek keluarga kami hari ini adalah "Makan Siang Bersama". Sebenarnya sangat sederhana sekali proyek ini; tapi esensi di dalamnya yang sangat istimewa. Karena dalam keseharian kami jarang sekali makan bersama. Bahkan ketika akhir pekan, dalam beberapa kali akhir pekan belakangan ini, saya dan suami selalu mengikuti seminar pengasuhan; jadilah kami kekurangan waktu untuk bersama. Maka pada siang hari yang cerah ini, kami jadikan sebagai moment untuk saling bersama dalam proyek makan bersama. Kira-kira beginilah proyek keluarga kami pada hari ini:

Family Project 2 : Makan Siang Bersama

Penanggung Jawab: Ayah

Pelaksana: Bunda, Javas, dan Hizli

Pembagian Tugas:
  • Bunda bertugas membeli makanan.
  • Javas bertugas menemani bunda beli makanan dan menyiapkan nasi ke meja makan
  • Ayah dan Hizli bertugas menyiapkan peralatan makan di meja makan.  
Alat dan Bahan: piring, sendok, makanan.  

Waktu Pelaksanaan: Selasa, 28 Maret 2017

Durasi Pelaksanaan: 1 hari

Hasil Pengamatan: 
Sebelum Pelaksanaan: Ide proyek keluarga kami kali ini, saya utarakan sebelum waktu makan siang. Hal ini terinspirasi karena suami saya sedang libur dan kami tidak ada agenda apa pun keluar rumah. Ketika saya menyampaikan ide tersebut kepada anak-anak dan suami, Alhamdulillah mereka menerimanya dengan senang dan semangat. Anak sulung saya, Javas, yang paling semangat karena dia mendapat tugas menemani saya beli makanan matang; berarti dia bisa ikut jalan-jalan sebentar ke luar rumah. Anak kedua saya, Hizli, juga semangat dengan rencana ini; tetapi dia sedikit bersedih karena kebagian tugas hanya di rumah dan menyiapkan piring bersama ayah. 

Saat Pelaksanaan: Javas senang sekali saya ajak keluar rumah untuk membeli masakan Padang. Walaupun cuaca siang tadi sangat panas dan terik, tetapi tidak menurunkan semangat Javas untuk menjalankan tugasnya. Akhirnya dia berinisiatif untuk membawa payung, supaya tidak kepanasan di jalan, katanya. Setelah sampai di rumah sepulang membeli makanan, saya segera menyiapkan nasi dengan dibantu Javas untuk membawakannya ke meja makan. Semua senang karena bisa menyiapkan makanan bersama untuk dinikmati bersama. Hanya saja ketika mulai makan, Javas dan Hizli tidak segera ikut makan bersama. Mereka bilang bahwa masih kenyang karena minum jus. Iya memang, sebelumnya Javas minum jus jeruk sunkist dan Hizli minum jus alpukat. Ya sudah, walaupun kami tidak bisa makan bersama secara harfiah, tetapi ketika waktu makan siang tadi, kami berada di waktu dan tempat yang sama. Ini benar-benar sangat istimewa bagi keluarga kami; mengingat kesibukan suami saya di luar rumah pada hari biasa; ditambah lagi kesibukan saya yang ikut seminar saat akhir pekan. 

Selesai Pelaksanaan: Selesai makan bersama, saya bersama suami dan anak-anak menghabiskan waktu di kamar tidur sambil menikmati dinginnya AC kamar. Di tengah kebersamaan kami, saya bertanya perasaan Javas saat menyiapkan moment makan bersama tadi. Javas bilang bahwa dia senang. Tapi besok lagi dia tidak mau ikut ke luar beli makanan, karena di luar sangat panas dan capek. Kalau Hizli, dia juga senang dan bilang bahwa dia mau ikut ke luar beli makanan; karena di rumah bosan. Hehehe. Ya sudah, kalau begitu, besok lagi bertukar peran saja. Sedangkan kalau suami saya, beliau jawab: besok lagi kita nge-Go Food aja, ya, Bun! Hehehe. Oke, Ayah! 

Berikut foto-foto kegiatan proyek keluarga kami hari ini: 


#TantanganHari2
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Thursday, 23 March 2017

Family Project 1: Membuat Teh

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya  kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sakali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkatan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al-Isra: 23-24) 


Beberapa hari ini, dua ayat di atas menjadi pembelajaran dalam kegiatan homeschooling kami. Dalam keseharian, saya dan suami selalu mengulang-ulang membacakan ayat-ayat ini kepada kedua anak lelaki kami; sekaligus men-saounding beberapa aktivitas yang kami golongkan sebagai aktivitas 'berbakti kepada ayah bunda'. Qodarullah, materi yang disampaikan dalam kuliah Bunda Sayang IIP adalah membuat 'Family Project'. Jadilah kami membuat 'Family Project' pertama kami yang dilandasi oleh dua ayat di atas. Jadi beginilah detail 'Family Project' pertama kami: 

Family Project 1 : Membuat Teh untuk Berbuka Puasa

Penanggung Jawab: Bunda

Pelaksana: Javas dan Hizli

Pembagian Tugas:
  • Bunda bertugas menyiapkan alat dan bahan.
  • Javas dan Hizli bertugas membuat teh. 
  • Ayah dan Bunda bertugas mencicipi teh buatan Javas dan Hizli.  
Alat dan Bahan: dua gelas tinggi, dua sendok, dua kantong teh, gula pasir secukupnya, air panas, air biasa, nampan. 

Waktu Pelaksanaan: Kamis, 23 Maret 2017 (saat Ayah puasa sunnah dan Bunda puasa bayar hutang Ramadhan)

Durasi Pelaksanaan: 1 hari

Hasil Pengamatan: 
  • Sebelum pelaksanaan 'Family Project': Pembicaraan mengenai Family Project kami ini dilakukan pada malam sebelumnya ketika menjelang waktu tidur. Pembicaraan itu terjadi begitu saja dan ide pun muncul secara tiba-tiba. Qodarullah memang saya dan suami ingin melaksanakan puasa pada hari kamis, juga kami sedang membahas dua ayat dalam Al-Quran tentang adab terhadap orang tua; jadilah kami mengambil ide yang sederhana, namun cukup esensial bagi pembelajaran anak-anak kami. Saat pembicaraan rencana project tersebut, Javas dan Hizli menyambut dengan gembira. Tentu mereka gembira, karena teh adalah minuman kesukaan mereka dan sehari-hari kalau yang namanya kegiatan eksplorasi dengan makanan (cooking experience); mereka pasti akan sangat antusias sekali. 
  • Saat pelaksanaan 'Family Project': Ketika pelaksanaan cukup banyak kehebohan terjadi dan beberapa hal yang di luar perencanaan. Kehebohan sudah mulai muncul ketika menjelang adzan maghrib. Saat itu saya belum mandi dan peralatan untuk membuat teh belum disiapkan, termasuk belum ada air panas karena kami tidak menggunakan termos air panas di rumah; anak-anak pun bertanya-tanya, "Bunda, kapan bikin teh nyaaaa? Ini udah mau maghrib lho..." Hal yang terjadi di luar rencana adalah karena suami saya belum pulang dan dia lembur. Jadilah kami hanya bertiga saja mengerjakan project ini. Alhamdulillah anak-anak tetap senang menjalani project ini. Hal itu terlihat dari antusiasme mereka dalam melakukan segala hal yang diinstruksikan; bahkan sebelum diinstruksikan pun mereka sudah berinisiatif untuk melakukannya. Contohnya seperti Javas yang sudah langsung menuangkan gula padahal teh nya belum terlalu larut di gelasnya. Juga Hizli yang langsung mencicipi tehnya, padahal belum dituangkan air biasa ke dalam gelas, sehingga Hizli kepanasan saat mencicipinya. 
  • Setelah pelaksanaan 'Family Project': Menjelang waktu tidur, ketika suami saya sudah pulang, barulah kami membahas lagi tentang project pertama keluarga kami. Saya bertanya perasaan anak-anak saat membuat teh dan mereka menjawab bahwa mereka sangat senang. Bahkan kata Javas, besok-besok kalau Ayah dan Bunda puasa lagi, dia yang mau membuatkan teh dan memberikannya ke Ayah dan Bunda. Hizli pun demikian. Dia merasa senang karena bisa ikut menyiapkan minuman berbuka puasa, walaupun rasa teh nya masih kurang manis. Hehehe. Lalu saya bertanya kepada mereka, bagaimana perasaan mereka karena ayah pulangnya telat. Dan mereka jawab, "Ya nggak apa-apa. Kan tehnya jadi aku yang minum." Hahaha. Kontan jawaban ini membuat saya dan suami tertawa.
Evaluasi: 
Berdasarkan hasil pengamatan di atas, sejatinya kegiatan Family Project kami haruslah dihadiri lengkap oleh seluruh anggota keluarga. Karena kalau saja ada satu anggota keluarga yang tidak lengkap, maka akan terjadi kehebohan dan kerepotan yang di luar dugaan. Selain itu, saya pun mengerti bahwa untuk keluarga kami, tidak perlu project yang terlalu ribet dan membutuhkan banyak biaya. Bahkan project sederhana dengan biaya yang murah, asalkan sesuai dengan target pendidikan dan pengasuhan, bisa saja langsung kami lakukan. 

Berikut adalah foto-foto kegiatan kami:









Selesai

#TantanganHari1
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Wednesday, 15 March 2017

Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1: Komunikasi Produktif

Institut Ibu ProfesionalMateri Kelas Bunda Sayang sesi #1


KOMUNIKASI PRODUKTIF

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda

Kata  masalah gantilah dengan tantangan

Kata Susah gantilah dengan Menarik

Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.


Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.


Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya


Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.


 Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.


KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN

Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.


 Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.


Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.


FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.


FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.


FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.


Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.


Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.


Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA


 Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.


Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.


Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi


Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.


Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.


Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.


Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.


Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:


1. Kaidah 2C: Clear and Clarify

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.


Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.


2. Choose the Right Time

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.


3. Kaidah 7-38-55

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.


Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. Intensity of Eye Contact

Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati


Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.


5. Kaidah: I'm responsible for my communication results

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.


Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.


KOMUNIKASI DENGAN ANAK

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy


Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.


✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. Fokus pada solusi bukan pada masalah

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.


g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati

⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. Ganti perintah dengan pilihan

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat



Salam Ibu Profesional,


/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000

Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015


Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014


Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari

Kuliah Bunda Sayang  sesi #1 Komunikasi Produktif

Reminder selama mengerjakan tantangan 10 hari

https://youtu.be/qr9j0Xz9oUU




Cemilan Rabu #1
12  Gaya Populer, Penghambat Komunikasi Kita


📆  Hari baru, Semangat Baru

Satu minggu sudah kita memperdalam materi "Komunikasi Produktif". Dan teman-teman saat ini sedang melatih kekonsistenan diri dalam menjaga komunikasi dengan diri kita sendiri, dengan partner atau rekan kerja  dan dengan anak-anak kita. Banyak tantangan ya pasti, tapi seru. Di pekan pertama ini, kami ingin berbagi tentang 12 gaya populer, yang menghambat komunikasi kita.

Mungkin sebagian besar dari kita sudah sering mendengar tentang 12 gaya populer (parenthogenic).  Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari.

Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa tidak percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri.

Padahal sangat penting bagi anak untuk belajar percaya dengan perasaannya dan dirinya, hal tersebut akan mendukung perkembangan emosinya dan mendorong anak tumbuh menjadi percaya diri.

Jika perkembangan emosi anak baik, ia juga akan memiliki kontrol diri yang baik ketika menghadapi suatu masalah, bahkan ia akan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Berikut adalah  contoh-contoh 12 gaya populer:

1⃣Memerintah,
contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”

2⃣Menyalahkan,
contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”

3⃣Meremehkan,
contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”

4⃣Membandingkan,
contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”

5⃣Memberi cap,
contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”

6⃣Mengancam,
 contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”

7⃣Menasehati,
contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”

8⃣Membohongi,
contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”

9⃣Menghibur,
contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”

🔟Mengeritik,
contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”

1⃣1⃣Menyindir,
contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”

1⃣2⃣Menganalisa,
contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”

Aha! makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10 hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus.


Salam Ibu Profesional,



/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber bacaan:

Elly Risman, Penghambat Komunikasi Dalam Keluarga, artikel, 2014

Tim Fasilitator Bunda sayang IIP, Hasil Tantangan 10 hari, komunikasi produktif, 2017


Contoh dari tim fasil
Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

☕🍪 cemilan rabu #2 🍪☕
BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP HASIL KOMUNIKASI KITA


Bulan ini bagi teman-teman yang sudah bisa menyelesaikan tantangan 10 hari, akan mendapatkan badge yang bertuliskan

I'm responsible for my communication result

Artinya apabila hasil komunikasi kita dengan pasangan hidup, dengan anak-anak, dengan teman-teman di komunitas, rekan kerja dan masyarakat sekitar kita, tidak sesuai harapan, maka jangan salahkan penerima pesan, kitalah yang bertanggung jawab untuk mengubah strategi komunikasi kita.

Contoh kasus saya pernah jengkel dengan assisten rumah tangga saya yang biasa dipanggil budhe. Berkali-kali diberitahu cara setrika yang benar, tapi hasilnya selalu salah.

Kondisi seperti ini biasanya akan menyulut emosi kita ke penerima pesan.

Maka saya harus segera mencari orang ketiga untuk cari solusi lain.

Saya ceritakan kondisi ini ke pak dodik, beliau hanya menjawab simple

"Kalau sekali saja diberitahu langsung paham, maka budhe itu sudah pasti jadi manager sebuah bank, bukan kerja di rumah ini"

(😀 beginilah salah satu gaya komunikasi pak dodik)

Hmmm....sayalah yang harus mengubah strategi komunikasi saya, artinya gaya komunikasi saya tidak tepat saat itu, bukan salah budhe.

Akhirnya ketemulah pola, kalau berkomunikasi dengan budhe harus diberi contoh, tidak hanya diberitahu lewat omongan saja.

Ini baru satu contoh komunikasi kita dengan assisten rumah tangga, belum lagi kasus komunikasi kita dengan ibu kita atau dengan ibu mertua kita, pasti makin kompleks. Dan yakinlah semua itu membuat kita makin terampil berkomunikasi, selama kita tidak menyalahkan hasil komunikasi kepada orang yang kita ajak bicara.

There is NO failure, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE our strategy

Tidak ada kegagalan berkomunikasi itu yang ada hanya hasil yang berbeda, tidak sesuai harapan, untuk itu segera ubah strategy komunikasi anda.

Ingat satu hal ini, pada dasarnya kebutuhan manusia yang paling dalam adalah keinginan agar perasaannya didengar, diterima, dimengerti dan dihargai.

Jadi dalam komunikasi, kita perlu meningkatkan kemampuan kita dalam mencoba memahami perasaan orang lain, apakah itu teman, pasangan hidup, rekan kerja, atasan, anak atau siapapun juga yang menjadi lawan bicara kita.

Untuk anak-anak, seringkali mereka belum mampu untuk mengatakan apa yang mereka rasakan, bisa jadi karena perbendaharaan kata mereka yang belum banyak.

Maka mereka akan menggunakan bahasa tubuh bahkan jauh ketika mereka belum pandai berbicara.

Sebagai orang tua maka kita harus meningkatkan kepekaan kita dalam menangkap makna dibalik bahasa tubuh dan perasaan apa yang mendasari sehingga kita bisa memahami perasaan yang ingin disampaikan si anak.

Rasa kurang percaya diri biasanya muncul karena kita “menidakkan perasaan” sehingga lawan bicara menjadi bingung, kesal, tidak mengenali perasaannya sendiri akhirnya tidak percaya pada perasaannya sendiri.

Jadi ingat dialog saya dan ibu waktu kecil

Saya : “Ibu, aku benci sama pak Guru. Tadi aku dimarahi di depan kelas”

Ibu : “Pasti kamu melakukan kesalahan makanya pak Guru marah sama kamu. Tidak mungkin kan pak Guru tiba-tiba marah”

Kalimat itu membuat saya jengkel sekali karena ibu seakan-akan justru membela pak guru dan otomatis menyalahkan saya.

Padahal saya hanya ingin di dengarkan. Sehingga kalimat

"Mbak jengkel banget ya sama pak guru, sini duduk sebelah ibu, minum teh hangat, dan mbak lanjutkan ceritanya"

Selamat melanjutkan tantangan komunikasi anda, jangan pernah menyerah walau kadang anda merasa lelah.

Salam Ibu Profesional,

/Septi Peni/

Sumber bacaan :

Pengalaman pribadi dalam menghadapi tantangan komunikasi sehari-hari

My Two-Second-Badge

Masya Allah... Alhamdulillah.. sungguh hanya Allah yang Maha Pemberi Kemudahan dalam segala hal yang saya lakukan. Kalau melihat kemampuan dan keadaan saya saat ini, hhhh, rasanya sangat sangat sangat sulit untuk menyadarkan betapa semua materi dan tantangan dari perkuliahan IIP ini bisa saya jalani. Pertama, manajemen waktu saya masih sangat parah; kedua, keterbatasan gadget untuk mengerjakan dan mengumpulkan tugas-tugas IIP dengan sesegera mungkin; ketiga, pemberlakukan teori Tegas, Tega, Sabar, dan Konsisten (TTSK) yang masih belum tuned in banget ke saya dan anak-anak. Tapi Alhmadulillah, tugas tantangan pada Level 2 ini akhirnya bisa saya lewati dan taraaaa... inilah apresiasi yang diberikan oleh IIP kepada saya, Badge Yes, I Can!! 


Pada dasarnya, manusia itu suka kalau diberikan apresiasi atas apa yang sudah dilakukannya. Dan bukan hal yang tidak mungkin kalau apresiasi itu bisa menambah semangatnya untuk melakukan yang lebih baik lagi. Itulah perasaan yang saya rasakan saat ini. Setiap kali selesai tantangan di IIP dan saya mendapatkan Badge, ada suatu rasa bangga dan senang sekali. Padahal mah kalau dipikir, apresiasinya bukan yang muluk-muluk, tapi ketika selesai mengerjakan tantangan tepat waktu, dan saya yakin tepat waktu, itu ada perasaan yang menunggu-nunggu untuk dikirimin badge oleh fasilitator. Hehehe. 

Dan ini badge kedua saya dalam tantangan #MelatihKemandirian. Sebenarnya yang saya harapkan adalah badge yang satunya lagi, yaitu badge yang didapatkan kalau melaporkan dan mengumpulkan tantangan secara berturut-turut selama 10 hari. Tapi sayang, karena keterbatasan kemampuan gadget saya, makanya badge itu tidak bisa saya raih. Semoga di tantangan berikutnya, saya bisa lebih memaksimalkan dan mengoptimalkan kemampuan diri saya untuk bisa meraih badge yang terbaik. 
Dalam mengerjakan tantangan IIP di Level2 ini, banyaaaaak sekali perasaan dan kesadaran yang saya dapatkan. Dari awalnya saya merasa sangat tertantang di permulaan tantangan, sampai merasa hopeless karena hal yang dilakukan anak-anak tidak sesuai target, sampai akhirnya merasa ok, i can do it di akhir tantangan, yaitu ketika keyakinan saya kembali mengingatkan saya: kamu adalah bunda untuk anak-anakmu, Allah tidak salah menempatkanmu sebagai bunda mereka, pun mereka sebagai anak-anakmu, kamu pasti bisa, BISMILLAH.

Dan yup, akhirnya di sinilah saya, dengan kesadaran yang bertambah bahwa pencatatan setiap detil pertumbuhan dan perkembangan itu sangatlah penting. Walaupun tidak ada ajang perlombaan pengumpulan portofolio anak tingkat dunia; tapi semua catatan pertumbuhan dan perkembangan anak, yang nantinya bisa dimasukkan ke dalam portofolio mereka, akan menjadi catatan bersejarah bagi anak-anak saya. Hal yang saya harapkan adalah, kelak ketika mereka dewasa nanti dan mereka menjadi orang yang mendunia dalam bidang akhirat, maka catatan-catatan kecil saya yang akan menjadi pengingat mereka, bahwa ada Allah yang Maha Mencatat setiap yang mereka lakukan. Ibaratnya, kalau saya, yang manusia biasa saja bisa mencatat satu per satu perkembangan mereka; apalagi Allah yang Maha Segalanya, pasti sangat tepat dan sangaaat teliti lagi pencatatan-Nya. Amiin.


Tangerang, 16 Maret 2017
Diiringi oleh adzan subuh.


Friday, 10 March 2017

Latihan Kemandirian (10)

Fiiiiuuuhhh... akhirnya sampai juga di tulisan ke-10 tentang Latihan Kemandirian pada Game Level 2 dari kuliah Bunda Sayang IIP. Tulisan ke-10 ini bukan berarti akhir dari tulisan-tulisan saya selanjutnya tentang latihan kemandirian. Karena saya sangat sadaaaar sekali bahwa masih banyak kekurangan saya dalam hal melatih kemandirian anak-anak. Dengan adanya 'tugas' dari IIP untuk menuliskan tentang praktek latihan kemandirian pada anak-anak, juga diri saya sendiri sebetulnya, menjadikan saya lebih aware dalam hal mendokumentasikan pencapaian-pencapaian yang sudah dilakukan anak-anak. Hanya saja, saya menyadari bahwa dalam 10 tulisan saya dari kemarin hingga sekarang, masih sangat banyak kekurangan dan tambal sulam. Terlebih lagi, tentang target dan praktik kemandirian itu sendiri.

Oke, jadi di tulisan ke-10 ini, saya tidak akan melaporkan tentang praktek latihan kemandirian anak-anak seperti yang sudah saya tulis sebelumnya. Tapi kali ini, justru saya akan melaporkan bagaimana hasil observasi, kelebihan, dan kekurangan dalam praktek latihan kemandirian tersebut.

Menurut hasil pengamatan saya, berdasarkan target kemandirian yang sudah saya tentukan di tulisan ke-1, maka saya melaporkan bahwa:
1. Latihan kemandirian untuk Javas tidur sendiri di kamarnya, sudah bisa dikatakan lulus. Karena sudah tidak ada kendala lagi dalam memintanya untuk pindah tidur ke kamarnya. Karena kalau biasanya dia selalu tidak mau, sekarang dia selalu mau. Walaupun memang, masih harus ditemani dulu awalnya, nanti kalau sudah lelap, baru ditinggal. Saya rasa ini tidak masalah, karena ini bagian dari adaptasi. Hanya saja saya menemukan beberapa tantangan lanjutan untuk memantapkan latihan kemandirian ini, seperti: token listrik yang boros kalau semua AC harus nyala saat malam, token listrik yang tidak cukup untuk menyalakan dua AC semalaman, dan keadaan kamar Javas yang masih sering jadi tempat nyamuk bersembunyi. Di samping itu, ada juga tantangan lain yang secara tidak langsung berkaitan dengan latihan kemandirian ini, seperti: waktu tidur malam dan bangun pagi yang belum konsisten dan waktu penggunaan AC yang belum terjadwal.

2. Latihan kemandirian untuk Hizli membuka dan menutup botol, sepertinya sudah menunjukkan hasil yang baik. Hizli sudah bisa membuka botol minumnya, tapi terkadang masih sering lupa menutup dengan rapat, sehingga sering tumpah. Untuk botol-botol yang terlalu rapat menutupnya, Hizli masih membutuhkan bantuan orang lain untuk membukanya. Lalu untuk latihan toilet training, Hizli belum berhasil melakukannya; dan kesimpulannya, untuk latihan TT ini masih harus di-pending selama sebulan dan diisi dengan hypnotherapy selama sebulan tersebut. Kalau dalam hal latihan TT ini, saya menyadari bahwa ada peran saya juga yang menyebabkan Hizli belum berhasil. Misalnya, saya belum konsisten men-sounding Hizli untuk BAK dan BAB di kamar mandi, saya masih suka lupa jadwal Hizli BAK, dan kadang kalau fisik saya sedang lelah, saya lebih memilih memakaikan pospak kepada Hizli. Semoga untuk selanjutnya, semua kekurangan ini bisa saya perbaiki dan tercatat dengan runut dalam catatan latihan kemandirian anak-anak saya.

Akhirnya, dari hasil latihan dan laporan selama 10X ini, saya bisa memetik banyak pelajaran untuk diri saya sendiri, yaitu:
1. Saya harus lebih konsisten dalam melaksanakan praktek sesuai dengan target.
2. Saya harus bisa mengkomunikasikan target-target pencapaian itu dengan suami; supaya kami bisa mencapainya bersama.
3. Saya harus lebih tegas dan tega ke anak-anak dalam hal praktek kemandirian; selama ke-tegasan dan ke-tega-an itu sesuai dengan tumbuh kembangnya.

Saya berharap, laporan-laporan ini bisa terus saya lanjutkan dan saya rapikan lagi; sehingga nantinya bisa saya gunakan sebagai portofolio perkembangan anak-anak saya.


Tangerang, Sabtu Pagi, 11 Maret 2017

#Level2
#LatihanKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Wednesday, 8 March 2017

Latihan Kemandirian (9)

Wow, amazing sekali dengan hari ini. Saya bisa melatih dua kemandirian yang sama untuk kedua anak saya. Untuk Javas, latihan kemandirian yang ingin saya latih adalah belajar berwudhu; sedangkan untuk Hizli adalah belajar makan sendiri. Khusus untuk Hizli, karena saya tidak mau terlalu memaksanya, mengingat usia nya juga masih dua tahun; jadi ketika saya menyiapkan latihan kemandirian A, misalnya, dan dia menunjukkan bahwa dia siapnya untuk kemandirian B, ya maka kemandirian B lah yang akan saya latihkan padanya.

Seperti hari ini, berdasar target yang sudah saya tulis sebelumnya, seharusnya Hizli masih berlatih TT. Namun, karena saya sudah memutuskan untuk men-skip dulu latihan tersebut sampai sebulan ke depan, maka harusnya pindah ke target berikutnya yaitu merapikan/mengembalikan mainan sendiri ke tempatnya; tetapi karena Hizli menunjukkan bahwa dirinya siap untuk berlatih makan sendiri, maka jadilah keterampilan itu yang saya latihkan kepada Hizli.

Alhasil, hari ini Javas berlatih wudhu dan Hizli berlatih makan sendiri. Alhamdulillah Javas sudah hapal urutan wudhu, karena memang sebelumnya sudah pernah saya perkenalkan. Hanya saja, dia masih sering mendahulukan bagian kiri terlebih dahulu daripada bagian kanan. Mungkin ini karena Javas tipikal left-handed person, dia lebih banyak beraktifitas dengan tangan kiri seperti menulis, membawa barang, memegang sesuatu, dll. Sampai-sampai hal itu terbawa ke wudhu; bahkan ketika makan pun, walau sudah terbiasa dengan tangan kanan, terkadang masih suka melakukannya dengan tangan kiri. Berarti yang masih menjadi PR saya adalah: menguatkan lagi hal-hal syariat mana yang harus dilakukan dengan tangan kanan/bagian kanan dulu; dan hal-hal mana yang boleh dilakukan dengan tangan kiri/bagian kiri.

Hizli, alhamdulillah, menunjukkan kemauannya untuk bisa makan sendiri. Hal ini terlihat ketika saat waktu sarapan, saya memberikan sarapan kepada si abang dan Hizli pun memintanya untuk memegang sendiri wadah sarapan tersebut. Dari cara Hizli memegang mangkuk dan membawanya ke kursi, saya perhatikan bahwa sudah tidak ada masalah. Cara memegangnya sudah cukup kokoh dan ketika membawanya pun, dia sudah berhati-hati dan berusaha agak mangkuk tidak miring. Lalu ketika mulai makan, Hizli sudah otomatis menggunakan tangan kanan, karena mungkin dia bukan left-handed seperti abangnya. Tapi beberapa hal yang saya perhatikan masih menjadi PR buat saya adalah: posisi Hizli memegang sendok masih terlalu dekat dengan kepala sendok dan gerakan tangannya ketika munyuap masih belum fokus. Untuk hal ini, seiring berjalannya waktu dan banyaknya berlatih, saya yakin Hizli akan memperbaiki dirinya sendiri.


#LatePost

Tangerang, 7 Maret 2017

#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Latihan Kemandirian (8)

Pada hari ini, Minggu tanggal 5 Maret 2017, seharusnya menjadi hari ke-11 dalam agenda latihan kemandirian anak-anak kami. Seharusnya pula, latihan kemandirian itu disesuaikan dengan target kemandirian yang sudah saya tuliskan sebelumnya. Namun, karena ada beberapa kendala, khususnya untuk latihan kemandirian Hizli, maka target kemandirian yang sudah saya sampaikan sebelumnya perlu ada revisi lagi. Khususnya bagi kami, sepertinya kami perlu memantapkan rumus TTSK kami lagi: ke-Tegasan, ke-Tegaan, ke-Sabaran, dan ke-Konsistensi-an.

Oke, pada tulisan kali ini, saya tidak akan membicarakan target kemandirian yang sebelumnya sudah saya tulis. Justru saya akan membicarakan 'target kemandirian' dadakan yang saya targetkan dadakan pula pada kedua anak saya.

Jadi, hari ini saya harus menghadiri kelas rutin parenting dan fiqh di Madrasattun Nissa. Seperti biasa, setiap saya harus pergi belajar, kemungkinannya ada dua: pertama memberikan kesempatan pada anak-anak saya untuk ber-father's day; atau kedua menitipkan kedua anak saya di rumah orang tua saya. Khusus hari ini, pilihannya adalah gabungan dari kedua. Anak pertama saya ber-father's day dengan suami saya, sekaligus ada playdate dengan teman-teman homeschoolingnya; dan anak kedua saya dititipkan di rumah orang tua saya.

Alhamdulillah kedua anak saya berhasil menjalani keduanya dengan baik. Untuk Javas, suami saya cerita bahwa dia bisa bersosialisasi dengan baik dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Javas mau menyapa dan bermain bersama dengan anak-anak sebayanya. Pun tidak ada masalah ketika berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua dengannya. Javas pun aktif sekali mengikuti kegiatan yang diadakan di playdate tersebut dan mau mengikuti runtutan acara yang berlaku. Tentu hal ini membuat kami merasa senang, sebagai orang tuanya. Karena hal ini membuktikan bahwa tidak ada masalah pada anak kami dalam hal bersosialisasi dan berkomunikasi; meskipun sehari-hari, setiap senin sampai jumat, anak-anak kami 'bersekolah' di rumah dan tidak main ke luar rumah tanpa pengawasan. Kalaupun main, mereka hanya main sekitar 30 menit dan itu tidak setiap hari.

Lanjut ke Hizli. Alhamdulillah, dia juga bisa diajak kerja sama. Ketika saya jelaskan bahwa saya harus menghadiri kelas belajar dan abangnya bersama ayah harus mengikuti playdate; berarti Hizli akan ditinggal sendiri di rumah jiddah, dia bisa menerima dengan baik tanpa rewel dan menangis. Sepulang saya ke rumah, kemudian saya tanya ke orang tua saya, apakah ada masalah ketika Hizli ditinggal sendirian, mereka jawab: Hizli baik-baik saja, bermain dan beraktifitas seperti biasa, tidak bertanya-tanya atau rewel kapan ayah, bunda, dan abangnya pulang. Saya senang sekali mendengarnya. Bagi saya, ini satu step kemajuan dalam latihan kemandirian Hizli.

#LatePost

Tangerang, Minggu 5 Maret 2017

#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Monday, 6 March 2017

Latihan Kemandirian (7)

Hari ini, Jumat, tanggal 3 Maret 2017, memasuki hari kesembilan latihan kemandirian bagi Javas dan Hizli. Untuk Javas, sudah tidak ada masalah lagi dalam hal melatih kemandiriannya untuk tidur sendiri. Karena sebenarnya setiap malam, dia sudah meminta untuk tidur di kamarnya sendiri. Hanya saja dalam dua malam ini kami belum mengisi pulsa token listrik, sehingga tidak cukup kalau harus menyalakan dua AC selama dua malam berturut. Saya mengakui hal ini sebagai kesalahan saya dan bisa menjadi kendala dalam kontinuitas Javas untuk tidur sendiri di kamarnya. Bahkan mungkin, bisa terkesan kami tidak konsisten menjalankan target yang sudah kami tetapkan.

Atas kendala yang saya temui dalam melatih Javas untuk tidur sendiri, dimana kendala itu datangnya dari kami, orang tua; maka sebagai pembelajaran selanjutnya bagi kami adalah: selain melatih tidur malam sendiri di kamarnya, kami juga harus mengatur jadwal pemakaian AC di dalam rumah. Kapan AC harus dinyalakan pada malam hari ketika akan tidur, kapan AC akan dimatikan ketika paginya, dan kapan AC akan dinyalakan ketika aktivitas siang hari dan berapa lama durasinya. Oke, ini akan menjadi target selanjtunya bagi keluarga kami.

Lanjut dengan latihan kemandirian Hizli untuk pipis sendiri di kamar mandi. Hari ini terjadi kejadian yang tidak akan pernah saya lupa. Apakah itu?? Yaitu, Hizli pup di celanaaaa dan pup nya berceceran ke seluruh celana. Huhuhuhuuuuu... Saat itu rasanya semua emosi menjadi satu dalam diri saya, antara mau nangis, kesel, capek, hhh, semuanyalah. Alhamdulillah nya saya masih bisa mengontrol emosi dan tidak perlu marah-marah ke Hizli, karena percuma juga marah-marah, sudah kejadian, kok.

Itu adalah pertama kalinya Hizli pup di celana. Iya, karena dalam latihan-latihan sebelumnya, saya hanya melatih Hizli ketika pagi dan siang; lalu kalau sore, setelah mandi sore, kembali saya pakaikan pampers supaya tidur Hizli nyenyak, begitupun dengan saya dan suami. Terus terang, saya pun belum siap kalau harus melepas total pampers Hizli. Jadi kalau pun BAB, biasanya Hizli BAB ketika malam atau pagi sesaat setelah bangun tidur.

Karena pengalaman itu, akhirnya saya berunding sama suami. Mungkin Hizli belum siap untuk toilet training, bisa jadi kami juga; atau karena kami belum siap, makanya Hizli pun demikian?? Entahlah. Akhirnya saya dan suami bersepakat, untuk sebulan ke depan, kami akan mulai melatih TT-nya dengan hypnotherapy. Inspirasi ini saya dapatkan dari teman saya yang pernah melatih anaknya seusia Hizli untuk TT. Karena dirasa anaknya belum siap, jadilah teman saya memulai dengan meng-hypno anaknya sebelum tidur malam selama sebulan. Kalimat yang diucapkannya adalah: kalau mau pipis dan pup, ke kamar mandi, ya. Begitu terus kalimat itu diulang-ulang menjelang si anak tidur; dan hasilnya setelah satu bulan, si anak berkeinginan sendiri untuk pipis ke kamar mandi. Semoga ini berhasil di Hizli.



#LatePost
Tangerang, 3 Maret 2017

#Level2
#MelatihKemandirian
#BunSayIIP

Sunday, 5 March 2017

Latihan Kemandirian (6)

Hari ini saya merekam jejak latihan kemandirian Hizli sebagai hari ke-6. Beberapa hari lalu sangat cukup untuk membuat saya belajar bahwa: saya belum tahu secara jelas waktu kapan saja Hizli mau BAK, saya belum tahu jeda waktu antara BAK yang satu dan selanjutnya. Mungkin itu semua karena selama beberapa hari kemarin saya masih memakaikannya pampers dan belum PD untuk melepasnya. Maka dari itu, seharian ini saya mulai melepaskan pampers Hizli.

Setelah seharian berjibaku dengan latihan kemandirian Hizli untuk BAK sendiri di toilet, akhirnya saya mengetahui bahwa dia harus pipis per 1 jam 15 menit. Jadilah setiap jeda waktu segitu, saya langsung membawa Hizli ke kamar mandi. Beberapa kali berhasil, tapi beberapa kali juga tidak berhasil.

Selanjutnya Javas, si abang. Alhamdulillah kegiatan tidur sendiri di kamar sudah tidak ada masalah lagi. Javas dengan suka rela mau tidur di kamarnya; tapi memang, awalnya masih harus ditemani dulu sebentar, setelah lelap baru ditinggal. Untuk latihan kemandirian tidur sendiri ini, saya rasa sudah tidak ada kendala. PR saya selanjutnya mungkin adalah menetapkan jadwal tidur dan bangun tidur yang konsisten untuk Javas. Misal kalau tidur jam 9 malam, maka setiap hari harus tidur jam segitu; begitupun dengan bangun pagi. Kalau mau banyun jam 7 pagi, maka setiap hari pun harus bangun jam sekian. Semoga Allah memberi saya dan suami kemudahan untuk melatihnya. Amiin.

#latepost
Tangerang, 2 Maret 2017

#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunsayIIP

Tuesday, 28 February 2017

Latihan Kemandirian (5)

Lanjut lagi bicara soal latihan kemandirian kedua anak lelaki saya. Ketika saya menulis ini, Javas sudah tidur terlelap di kamar saya. Iya, di kamar saya dan kami tidur bersama. Kenapa tidak di kamar Javas, padahal tadi dia ingin sekali tidur di kamarnya.

Jadi alasannya adalah, tadi sebelum waktu tidur, suami saya bilang, "Bun, Javas tidur sama kita dulu, ya??" Saya kaget, lho, kenapa?? "Iya, karena token listriknya kayaknya sudah mau habis, deh. Ayah khawatir nggak cukup untuk 2 AC sampai besok pagi." Ya Allah... saya tidak memperkirakan hal ini. Memang ini sudah di akhir bulan dan sudah pasti token listrik kami menipis. Parahnya lagi, rekening saya yang biasa digunakan untuk mengisi token melalui mobile banking, belum di-refill sama suami. Ya sudahlah, qodarullah, kami harus tidur bersama lagi. Semoga keadaan ini tidak menurunkan semangat Javas untuk tidur sendiri besok malam. Amiin.

Hal berharga yang saya pelajari: sedia payung, sebelum hujan; selalu cek token listrik di akhir bulan!!

Selanjutnya, tentang latihan kemandirian Hizli. Hari ini dia tidak terlalu banyak berlatih membuka dan menutup botol; juga sama sekali tidak latihan toilet training. Alasannya adalah, saya sedang mendekati waktu menstruasi, ketika tubuh saya terasa lebih lelah dari biasanya; plus masih menyisakan kelelahan sisa perjalanan ke Ciater kemarin. Jadilah, saya sudah membayangkan akan betapa ribet dan lelahnya, juga membutuhkan tenaga ekstra untuk menetralkan emosi; ketika saya harus bolak balik menawarkan Hizli ke kamar mandi untuk ditatur. Semoga besok keadaan saya bisa lebih baik lagi, sehingga bisa maksimal mendampingi latihan kemandirian anak-anak.


Tangerang, 28 Februari 2017
dalam keheningan malam, menjelang pergantian hari.

Monday, 27 February 2017

Latihan Kemandirian (4)

Wow, kaget ketika melihat postingan saya di sini: https://belajaronlinebunda.blogspot.co.id/2017/02/target-latihan-kemandirian-anak-1.html. Baru 'ngeh' kalau target awal kemandirian Hizli adalah 'membuka dan menutup botol'; tetapi yang selama ini saya posting malah 'toilet training'.

Oke, jadi begini: qodarullah saya membelikan botol minum yang bertutup putar untuk Javas dan Hizli, sehingga setiap mereka mau minum, ya otomatis mereka harus membukanya dengan cara diputar. Hehehe, ini sebenarnya trik untuk melatih kemandirian mereka, sekaligus melatih motorik halus untuk kekuatan jari-jari dan pergelangan tangan mereka. Persis seperti yang diterapkan di sekolah-sekolah TK dengan metode Montessori. Tentu, pada awalnya saya harus menjelaskan dulu cara memegang botol, memegang tutup botol, dan cara memutar tutup botol, sampai menutupnya kembali hingga aman dari tumpah.

Mengapa urusan botol minum saja menjadi begitu penting? Yes, seperti yang saya sebut di atas, selain untuk melatih kemandirian; perihal botol minum ini juga bisa digunakan sebagai stimulus motorik halus anak dalam rangka persiapan menulis. Lho?? Iya, jadi begini....
Ketika anak memegang tutup botol putar untuk membuka botol, ajarkan mereka untuk memegangnya dengan tiga jari: jempol, telunjuk, dan jari tengah. Bagi anak yang left-handed, seperti Javas, saya biarkan dia membuka tutup botolnya dengan tangan kiri; asalkan kalau minum, selalu dengan tangan kanan. Tiga jari dalam membuka botol ini, seperti tiga jari yang digunakan untuk pencil grip atau memegang pensil. Lalu gerakan pergelangan tangan yang memutar tutup botol adalah latihan untuk kekuatan dan kelenturan pergelangan tangan; dalam rangka menulis huruf-huruf tegak atau lengkung.

Tentang Hizli, saya perhatikan caranya membuka tutup botol sudah sangat baik. Hanya saja, yang masih menjadi PR saya adalah, mengajarkan caranya membawa botol agar air tidak tumpah. Terkadang, kalau air di botol saya isi penuh, Hizli belum bisa aware untuk membawanya dengan tegak dan lurus. Alhasil, ada seikit air yang tumpah dan berbahaya bagi dia kalau tidak segera dibereskan.

Lanjut ke latihan kemandirian Javas untuk tidur sendiri. Jadi ceritanya setelah pulang dari Ciater, kami semua sudah sangat lelah. Ketika Javas siap untuk tidur di kamarnya, tetiba saja dia minta ditemani oleh saya; dan menolak ditemani ayahnya. Padahal saat itu, Hizli pun sedang rewel dan ingin ditemani saya. Singkat cerita, Javas dan Hizli saya temani bersama dan kami tidur di kamar utama. Tapi kata Javas, "Nanti kalau aku sudah tidur, pindahin aku ke kamarku, ya Ayah?" Dan saat itu suami saya mengiyakan.

Qodarullah karena kami sudah sangat lelah, akhirnya kami tidur sampai pagi. Lalu ketika pagi Javas terbangun, kesal lah dia karena belum dipindah ke kamarnya. "Kenapa kok aku nggak dipindahin??Katanya semalam janji, mau pindahin aku!!" Oh iya, kami ketiduran. Ya sudah, langsung saja saya jelaskan kepada Javas bahwa saya dan ayahnya ketiduran sehingga lupa memindahkannya. Sekalian juga saya masukkan nilai tauhid di dalamnya, bahwa semua itu sudah merupakan qodarullah, takdir Allah; bahwa kita sudah berencana, tetapi yang memutuskan segala sesuatu terjadi tetaplah Allah.



Tangerang, 27 Februari 2017
#latepost

#Level2
#LatihanKemandirian
#BundaSayangIIP

Latihan Kemandirian (3)

Memasuki hari ketiga latihan kemandirian, qodarullah, kami sekeluarga masih berada di Ciater dalam acara Arisan Keluarga dan Family Gathering. Alhasil, target kemandirian yang sudah saya buat sebelumnya, tidak bisa sepenuhnya dilaksanakan. Meskipun demikin, saya punya cerita lain tentang kemandirian anak-anak.

Saya mulai dari anak sulung saya, Abang Javas. Selama dua hari satu malam kami berada di Ciater dan berkumpul bersama keluarga; saya memperhatikan kemandirian Javas dalam bersosialisasi sudah mulai terasah dengan baik. Hal ini saya perhatikan dari sikap Javas yang sudah lebih mudah diberi pengertian ketika melihat sepupu-sepupunya hanya asyik dengan gadget dan TV. Ya, dalam keluarga kami, peraturan yang kami berlakukan adalah tidak menonton TV atau pun bermain gadget setiap hari Senin sampai Jumat; dan boleh menonton atau melihat gadget ketika Sabtu atau Ahad, itupun hanya kami beri jatah selama 30 menit. Kejam, kah?? Bagi saya tidak. Karena dampak yang akan ditimbulkan gadget dan screen dalam kehidupan anak-anak saya, akan jauuuh lebih kejam daripada hanya membatasinya.

Selanjutnya adalah Adik Hizli. Kini usianya memasuki 2y3m dan saya melihat kemampuan bersosialisasinya sudah berkembang cukup pesat. Kalau biasanya Hizli tidak mudah nyaman ketika berada di tempat baru, apalagi bersama orang-orang yang sehari-hari tidak mendampinginya; kini Hizli sedikit lebih santai. Ya, walaupun ketika awal kami memasuki villa tempat kami menginap, Hizli masih meminta untuk dipeluk, dipangku, dan digendong oleh saya atau suami saya. Tapi selanjutnya, Hizli mulai beradaptasi dengan lingkungan. Hal ini saya perhatikan ketika melihat Bulik suami sedang memarut kelapa, kemudian Hizli mendekati dan jongkok di hadapan Bulik (red: Eyang bagi Hizli) sambil memperhatikan dan sesekali bertanya. Namun sayang sekali, saya tidak sempat mengabadikan momen tersebut dalam bentuk foto.

Oke, jadi demikian cerita latihan kemandirian dari dua anak lelaki saya. Meskipun kami belum berhasil mencapai target; tapi kami berlatih kemandirian lain, yaitu kemandirian bersosialisasi.


Ahad, 26 Februari 2017,
Ciater Spa, Jawa Barat,
Sambil menunggu waktu check out, ditemani derasnya hujan dan pekatnya kabut.

#Level2
#LatihanKemandirian
#IIP

#latepost

Friday, 24 February 2017

Latihan Kemandirian (2)

Tadi malam, alhamdulillah Abang Javas mau tidur di kamarnya lagi. Namun ada cerita menarik.
Jadi pada malam sebelumnya saya berjanji untuk menemani abang bobo tadi malam.

Qodarullah nya saya lupa untuk menemani; dan kembali abang ditemani oleh suami saya. Ternyata ketika ditemani suami saya, abang sebenernya tidak mau dan meminta supaya digantikan oleh saya. Singkat cerita akhirnya abang tetap tidur dengan suami saya, dengan perjanjian, nanti kalau abang bangun, sudah ada bunda di samping abang.

Waktu berlalu dan sampailah waktu subuh, sekitar jam empat pagi. Saat itu abang terbangun karena mau pipis. Nah ketika dia bangun dan tidak mendapati saya di kamarnya, jadilah dia kesal sampai membanting pintu kamar sebagai pelampiasan. Lalu suami saya membangunkan saya dan saya menemani abang tidur kembali.

Masya Allah, benar-benar pengalaman berharga sekali buat saya. Kalau berjanji sama anak, sebisa mungkin harus saya catat atau membuat reminder. Karena saya tipikal orang yang cepat sekali lupa. Hehehehe.

Itu cerita anak sulung saya yang alhamdulillah berhasil untuk tidur di kamarnya sendiri, meskipun agak drama. Cerita anak kedua saya berbeda lagi.

Seharian kemarin, harusnya Adik Hizli belajar BAK dan BAB di toilet. Tapi sayang sekali, saya selalu tidak tepat membawanya ke toilet. Kadang saya terlalu cepat membawanya ke toilet, kadang saya kelamaan membawa ke toilet. Alhasil, ya Adik tetap pipis dan pup di pampers seharian kemarin.

Tapi ada cerita menarik kemarin. Ketika sedang sarapan pagi, tiba-tiba saja Adik bilang, "Bunda, adek makan sendiri, ya." Dan saya jawab, "Oke adek." Kemudian dia melanjutkan sarapannya.
Tahap kemandirian untuk makan sendiri memang saya masukkan ke dalam target kemandirian yang akan dicapai Adik dalam sebulan ke depan. Tak terduga, ternyata Adik sudah 'menagih'nya sekarang. Sebagai bahan pembelajaran juga untuk saya, apakah hari-hari selanjutnya akan melatih target kemandirian seperti yang sudah saya sebutkan di tulisan saya sebelum ini; ataukah targetnya akan berubah dan menyesuaikan keadaan.

Rest Area KM 57, Tol Cikampek
Di tengah perjalanan menuju Ciater
Karawang, 25 Februari 2017

#Level2
#MelatihKemandirian
#BunSayIIP

Thursday, 23 February 2017

Target Latihan Kemandirian Anak (1)

YEEEEAAAAAYYYY.....

Rasanya ingin meneriakkan kata itu sekeras mungkin!! Kenapa?? Karena alhamdulillah saya, bersama keluarga, memasuki tantangan selanjutnya dari kuliah Bunda Sayang IIP. Setiap mengerjakan tantangan dari IIP, saya merasa, bukan hanya saya saja yang ditantang; tetapi juga seluruh anggota dalam keluarga kecil saya.


Oke, tantangan kali ini adalah tentang melatih kemandirian, boleh kemandirian untuk anak, diri sendiri, atau pun berdua dengan pasangan.


Bismillahirrahmaannirrahiim, saya akan mengambil kategori latihan kemandirian untuk anak. Karena itu, maka saya sudah membuat target kemandirian apa saja yang akan saya latih kepada kedua anak lelaki saya. Target tersebut adalah sebagai berikut.


Target Kemandirian Si Abang Javas:
1. Berlatih tidur sendiri di kamar (periode latihan: 23 Februari - 1 Maret 2017)
2. Berlatih wudhu 2x sehari dan shalat/tidak mengganggu orang shalat (periode latihan: 2 Maret - 8 Maret 2017)
3. Berlatih makan sendiri 2x sehari (periode latihan: 9 Maret - 15 Maret 2017)
note: selama ini Abang Javas sudah latihan makan sendiri, tapi hanya setiap sarapan saja. Jadi pada kesempatan kali ini, latihan makan sendiri tersebut akan ditambah intensitasnya.
4. Berlatih bangun tidur dan matikan AC jam 07.00 (periode latihan: 16 Maret - 22 Maret 2017)


Target Kemandirian Si Adik Hizli:
1. Berlatih membuka dan menutup botol (periode latihan 23 Februari - 1 Maret 2017)
2. Berlatih BAK/BAB di kamar mandi (periode latihan 2 Maret - 8 Maret 2017)
3. Berlatih mengembalikan/merapikan mainan ke tempatnya (periode latihan 9 Maret - 15 Maret 2017)
4. Berlatih memegang sendok dan menyuap makanan sendiri (periode latihan 16 Maret - 22 Maret 2017)


Nah, karena ketika saya menulis ini waktu sudah menunjukkan pergantian hari, maka saya akan membuat sedikit laporan/narasi dari masing-masing target kemandirian anak-anak yang sudah dijalani seharian ini.

Berlatih tidur sendiri untuk Abang Javas:
Latihan untuk tidur sendiri sebenarnya sudah saya sounding cukup lama kepada Javas. Tapi entah kenapa, baik saya maupun suami, rasanya masih 'ogah' untuk benar-benar meng-eksekusi rencana ini. Karena bagi kami, kalau Javas tidur sendiri di kamarnya, berarti daya listrik untuk AC jadi dobel, AC kamar utama nyala, dan AC kamar anak pun nyala.

Sampai akhirnya sekitar dua hari lalu, Javas demam tanpa sebab. Batin saya, ini anak demam, biasanya kalau habis demam, pasti ada kecerdasan atau kemandirian yang ter-upgrade. Kira-kira kali ini, kecerdasan atau kemandirian apa lagi, yang Allah upgrade-kan kepada Javas?

Benar saja, satu hari setelah demamnya reda, tepatnya hari Senin lalu, ketika waktu tidur tiba, Javas bilang: "Bun, aku mau tidur sendiri di kamarku. Tapi temenin dulu ya, sama ayah. Nanti kalau aku sudah tidur, baru ditinggal."

WOW... saya dan suami hanya bisa berpandangan. Dan tepat hari Senin malam, tanggal 20 Februari lalu, itu adalah hari pertama Javas mau untuk tidur sendiri. Alhamdulillah kegiatan tersebut berlangsung sampai dua hari setelahnya, yaitu sampai Rabu malam tanggal 22 Februari 2017.

Tantangan pertama muncul pada malam ini, tanggal 23 Februari 2017. Javas tiba-tiba saja susah sekali untuk terlelap, padahal suami saya sudah menemani, bahkan dia terlelap duluan. Tapi akhirnya Javas keluar kamar dan menghampiri saya di kamar. Dia memeluk saya dan bilang: "Aku mau bobo di sini dulu ya, malam ini, bun." Saya membalas, "Owh, mau bobo di sini?? Lagi kangen bobo sama bunda, ya??" Javas mengangguk. Saya meneruskan, "Boleeeh. Tapi, besok bobo sendiri lagi di kamar ya? Besok bunda yang temenin deh, di kamar abang." Akhirnya, kami pun tidur bersama. Semoga besok keadaan Javas lebih kondusif, sehingga bisa melanjutkan latihan kemandiriannya untuk tidur sendiri.


Berlatih BAK/BAB di kamar mandi untuk Adik Hizli:
Kalau boleh melihat pengalaman sewaktu Javas seumur Hizli, rasanya Javas bisa lebih dulu mandiri dalam hal BAK/BAB di kamar mandi. Sewaktu Javas seumur Hizli, dia sudah bisa bilang untuk BAK dan BAB di kamar mandi. Tapi sekarang, Hizli masih bergantung dengan pampers. Mungkin ini datang dari saya yang kurang serius melatih Hizli untuk melepas pampersnya.

Tapi seharian ini, alhamdulillah saya membulatkan tekad untuk segera melatih toilet training untuk Hizli. Hal ini dimulai dengan saya sounding ke Hizli, "Dek, kalau pipis di kamar mandi, ya. Kalau mau 'ee di WC, ya."

Satu jam sehabis mandi pagi, saya periksa pampers Hizli dan ternyata masih kosong. Kemudian buru-buru saya ajak Hizli ke kamar mandi, agar di pipis. Setelah saya membuka pampersnya, ternyata ada sedikit noda kotoran di pampers bagian belakang. Lalu saya bilang, "Adek mau 'ee juga ya??" Hizli jawab, "Nggak kok, adek perutnya sakit." Batin saya, wah, jangan-jangan mau BAB nih. Alhasil, saya angkat Hizli ke kamar mandi dan menjongkokkannya di WC.

Beberapa menit berlalu dan Hizli tak kunjung BAB. Ya sudah, saya bersihkan dia, dan ganti pampers yang baru. Tidak lupa saya sounding: Dek, kalau mau 'ee, di WC ya. Kalau mau 'ee, adik pegang pantat dan bilang bunda, ya. Hizli menjawab, "Iya, bunda."

Waktu berlalu dan kami bertiga pun main, bercerita, dan melakukan kegiatan seperti biasa. Saya lupa bahwa saya punya tugas untuk mengecek apakah Hizli mau BAK/BAB setiap satu jam. Kemudian, saya mencium aroma tidak sedap ketika kami sedang membaca buku. Dan baru saya teringat, "Wah, adik Hizli 'ee ya??" Saya cek pampersnya dan benar saja ternyata dia BAB. Ya sudah, langsung saya bersihkan dan ganti pampers. Tidak lupa, saya pun men-sounding-nya lagi, untuk BAK dan BAB di kamar mandi.

Untuk latihan kemandirian Hizli hari pertama, saya simpulkan bahwa saya belum berhasil. Hal itu karena saya lupa mengangkat Hizli untuk segera ke kamar mandi. Semoga besok bisa lebih ingat dan berhasil. Mampukan hamba, Ya Allah.


Oke, sekian narasi yang bisa saya berikan untuk pencapaian latihan kemandirian tertergat bagi anak-anak. Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi saya; dan bermanfaat bagi orang lain.


#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#Hari1


Dini hari, 02.00 WIB, 24 Februari 2017,
Ditemani ketiga lelaki kebanggaan saya yang sedang terlelap,
Tangerang.

Tugas Chukyuu 5

Komono Kitchen Hal yang dilakukan: 1.Mencuci piring dan peralatan masak setelah selesai masak 2.Mengelap cipratan minyak pada dinding da...