Showing posts with label sekolah rumah bunda. Show all posts
Showing posts with label sekolah rumah bunda. Show all posts

Saturday, 22 April 2017

(Hari 1) Mengenal Tata Surya

Pengalaman pertama saya pada pengamatan gaya belajar anak saya, Javas, dimulai dengan tema mengenal tata surya. Sebenarnya ini bukan pengamatan yang berlangsung dalam satu waktu saja; tetapi pengamatan ini sudah saya lakukan dalam beberapa waktu pada saat ini dan lalu. Pun pengamatan itu meliputi ketiga gaya belajar, yaitu visual, audio, dan kinestetik. 

Pada pengamatan audio-visual, saya sering membacakan buku mengenai tata surya. Beberapa buku yang mendukung tema tata surya ini adalah: 
The Solar System: A Lift-the-flap-book

Confidence in Science (CIS): Apa Saja Anggota Keluarga Matahari?

Aku Ingin Tahu Mengapa (ATM): Bintang Berkelip

Pada pengamatan visual saja, di rumah saya menyiapkan kartu tiga bagian dengan tema tata surya. Kartu tiga bagian ini adalah salah satu aparatus yang biasa digunakan dalam pembelajaran dengan metode Montessori. Jadi melalui kartu tiga bagian ini, anak-anak akan belajar mengenai bentuk dari anggota tata surya; sekaligus sebagai kegiatan pra-membaca dan pra-matematika. Beginilah penampakan kartu tiga bagian tersebut: 

Kartu Tiga Bagian (Three Part Cards) Tata Surya
Pada pengamatan kinestetik, saya dan suami pernah mengajak Javas ke Planetarium, Jakarta. Saat itu Javas senang sekali. Namun sayangnya, menurut saya, di Planetarium tidak banyak menyajikan hal-hal atau kegiatan yang bisa merangsang kinestetik anak dalam mengenal tata surya. Mungkin lain waktu, kami akan coba ke Mini Planetarium di TMII. Semoga hasilnya tidak mengecewakan. 


#Tantangan10Hari
#Hari1
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Wednesday, 8 March 2017

Latihan Kemandirian (9)

Wow, amazing sekali dengan hari ini. Saya bisa melatih dua kemandirian yang sama untuk kedua anak saya. Untuk Javas, latihan kemandirian yang ingin saya latih adalah belajar berwudhu; sedangkan untuk Hizli adalah belajar makan sendiri. Khusus untuk Hizli, karena saya tidak mau terlalu memaksanya, mengingat usia nya juga masih dua tahun; jadi ketika saya menyiapkan latihan kemandirian A, misalnya, dan dia menunjukkan bahwa dia siapnya untuk kemandirian B, ya maka kemandirian B lah yang akan saya latihkan padanya.

Seperti hari ini, berdasar target yang sudah saya tulis sebelumnya, seharusnya Hizli masih berlatih TT. Namun, karena saya sudah memutuskan untuk men-skip dulu latihan tersebut sampai sebulan ke depan, maka harusnya pindah ke target berikutnya yaitu merapikan/mengembalikan mainan sendiri ke tempatnya; tetapi karena Hizli menunjukkan bahwa dirinya siap untuk berlatih makan sendiri, maka jadilah keterampilan itu yang saya latihkan kepada Hizli.

Alhasil, hari ini Javas berlatih wudhu dan Hizli berlatih makan sendiri. Alhamdulillah Javas sudah hapal urutan wudhu, karena memang sebelumnya sudah pernah saya perkenalkan. Hanya saja, dia masih sering mendahulukan bagian kiri terlebih dahulu daripada bagian kanan. Mungkin ini karena Javas tipikal left-handed person, dia lebih banyak beraktifitas dengan tangan kiri seperti menulis, membawa barang, memegang sesuatu, dll. Sampai-sampai hal itu terbawa ke wudhu; bahkan ketika makan pun, walau sudah terbiasa dengan tangan kanan, terkadang masih suka melakukannya dengan tangan kiri. Berarti yang masih menjadi PR saya adalah: menguatkan lagi hal-hal syariat mana yang harus dilakukan dengan tangan kanan/bagian kanan dulu; dan hal-hal mana yang boleh dilakukan dengan tangan kiri/bagian kiri.

Hizli, alhamdulillah, menunjukkan kemauannya untuk bisa makan sendiri. Hal ini terlihat ketika saat waktu sarapan, saya memberikan sarapan kepada si abang dan Hizli pun memintanya untuk memegang sendiri wadah sarapan tersebut. Dari cara Hizli memegang mangkuk dan membawanya ke kursi, saya perhatikan bahwa sudah tidak ada masalah. Cara memegangnya sudah cukup kokoh dan ketika membawanya pun, dia sudah berhati-hati dan berusaha agak mangkuk tidak miring. Lalu ketika mulai makan, Hizli sudah otomatis menggunakan tangan kanan, karena mungkin dia bukan left-handed seperti abangnya. Tapi beberapa hal yang saya perhatikan masih menjadi PR buat saya adalah: posisi Hizli memegang sendok masih terlalu dekat dengan kepala sendok dan gerakan tangannya ketika munyuap masih belum fokus. Untuk hal ini, seiring berjalannya waktu dan banyaknya berlatih, saya yakin Hizli akan memperbaiki dirinya sendiri.


#LatePost

Tangerang, 7 Maret 2017

#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Latihan Kemandirian (8)

Pada hari ini, Minggu tanggal 5 Maret 2017, seharusnya menjadi hari ke-11 dalam agenda latihan kemandirian anak-anak kami. Seharusnya pula, latihan kemandirian itu disesuaikan dengan target kemandirian yang sudah saya tuliskan sebelumnya. Namun, karena ada beberapa kendala, khususnya untuk latihan kemandirian Hizli, maka target kemandirian yang sudah saya sampaikan sebelumnya perlu ada revisi lagi. Khususnya bagi kami, sepertinya kami perlu memantapkan rumus TTSK kami lagi: ke-Tegasan, ke-Tegaan, ke-Sabaran, dan ke-Konsistensi-an.

Oke, pada tulisan kali ini, saya tidak akan membicarakan target kemandirian yang sebelumnya sudah saya tulis. Justru saya akan membicarakan 'target kemandirian' dadakan yang saya targetkan dadakan pula pada kedua anak saya.

Jadi, hari ini saya harus menghadiri kelas rutin parenting dan fiqh di Madrasattun Nissa. Seperti biasa, setiap saya harus pergi belajar, kemungkinannya ada dua: pertama memberikan kesempatan pada anak-anak saya untuk ber-father's day; atau kedua menitipkan kedua anak saya di rumah orang tua saya. Khusus hari ini, pilihannya adalah gabungan dari kedua. Anak pertama saya ber-father's day dengan suami saya, sekaligus ada playdate dengan teman-teman homeschoolingnya; dan anak kedua saya dititipkan di rumah orang tua saya.

Alhamdulillah kedua anak saya berhasil menjalani keduanya dengan baik. Untuk Javas, suami saya cerita bahwa dia bisa bersosialisasi dengan baik dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Javas mau menyapa dan bermain bersama dengan anak-anak sebayanya. Pun tidak ada masalah ketika berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua dengannya. Javas pun aktif sekali mengikuti kegiatan yang diadakan di playdate tersebut dan mau mengikuti runtutan acara yang berlaku. Tentu hal ini membuat kami merasa senang, sebagai orang tuanya. Karena hal ini membuktikan bahwa tidak ada masalah pada anak kami dalam hal bersosialisasi dan berkomunikasi; meskipun sehari-hari, setiap senin sampai jumat, anak-anak kami 'bersekolah' di rumah dan tidak main ke luar rumah tanpa pengawasan. Kalaupun main, mereka hanya main sekitar 30 menit dan itu tidak setiap hari.

Lanjut ke Hizli. Alhamdulillah, dia juga bisa diajak kerja sama. Ketika saya jelaskan bahwa saya harus menghadiri kelas belajar dan abangnya bersama ayah harus mengikuti playdate; berarti Hizli akan ditinggal sendiri di rumah jiddah, dia bisa menerima dengan baik tanpa rewel dan menangis. Sepulang saya ke rumah, kemudian saya tanya ke orang tua saya, apakah ada masalah ketika Hizli ditinggal sendirian, mereka jawab: Hizli baik-baik saja, bermain dan beraktifitas seperti biasa, tidak bertanya-tanya atau rewel kapan ayah, bunda, dan abangnya pulang. Saya senang sekali mendengarnya. Bagi saya, ini satu step kemajuan dalam latihan kemandirian Hizli.

#LatePost

Tangerang, Minggu 5 Maret 2017

#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Monday, 27 February 2017

Latihan Kemandirian (3)

Memasuki hari ketiga latihan kemandirian, qodarullah, kami sekeluarga masih berada di Ciater dalam acara Arisan Keluarga dan Family Gathering. Alhasil, target kemandirian yang sudah saya buat sebelumnya, tidak bisa sepenuhnya dilaksanakan. Meskipun demikin, saya punya cerita lain tentang kemandirian anak-anak.

Saya mulai dari anak sulung saya, Abang Javas. Selama dua hari satu malam kami berada di Ciater dan berkumpul bersama keluarga; saya memperhatikan kemandirian Javas dalam bersosialisasi sudah mulai terasah dengan baik. Hal ini saya perhatikan dari sikap Javas yang sudah lebih mudah diberi pengertian ketika melihat sepupu-sepupunya hanya asyik dengan gadget dan TV. Ya, dalam keluarga kami, peraturan yang kami berlakukan adalah tidak menonton TV atau pun bermain gadget setiap hari Senin sampai Jumat; dan boleh menonton atau melihat gadget ketika Sabtu atau Ahad, itupun hanya kami beri jatah selama 30 menit. Kejam, kah?? Bagi saya tidak. Karena dampak yang akan ditimbulkan gadget dan screen dalam kehidupan anak-anak saya, akan jauuuh lebih kejam daripada hanya membatasinya.

Selanjutnya adalah Adik Hizli. Kini usianya memasuki 2y3m dan saya melihat kemampuan bersosialisasinya sudah berkembang cukup pesat. Kalau biasanya Hizli tidak mudah nyaman ketika berada di tempat baru, apalagi bersama orang-orang yang sehari-hari tidak mendampinginya; kini Hizli sedikit lebih santai. Ya, walaupun ketika awal kami memasuki villa tempat kami menginap, Hizli masih meminta untuk dipeluk, dipangku, dan digendong oleh saya atau suami saya. Tapi selanjutnya, Hizli mulai beradaptasi dengan lingkungan. Hal ini saya perhatikan ketika melihat Bulik suami sedang memarut kelapa, kemudian Hizli mendekati dan jongkok di hadapan Bulik (red: Eyang bagi Hizli) sambil memperhatikan dan sesekali bertanya. Namun sayang sekali, saya tidak sempat mengabadikan momen tersebut dalam bentuk foto.

Oke, jadi demikian cerita latihan kemandirian dari dua anak lelaki saya. Meskipun kami belum berhasil mencapai target; tapi kami berlatih kemandirian lain, yaitu kemandirian bersosialisasi.


Ahad, 26 Februari 2017,
Ciater Spa, Jawa Barat,
Sambil menunggu waktu check out, ditemani derasnya hujan dan pekatnya kabut.

#Level2
#LatihanKemandirian
#IIP

#latepost

Friday, 24 February 2017

Latihan Kemandirian (2)

Tadi malam, alhamdulillah Abang Javas mau tidur di kamarnya lagi. Namun ada cerita menarik.
Jadi pada malam sebelumnya saya berjanji untuk menemani abang bobo tadi malam.

Qodarullah nya saya lupa untuk menemani; dan kembali abang ditemani oleh suami saya. Ternyata ketika ditemani suami saya, abang sebenernya tidak mau dan meminta supaya digantikan oleh saya. Singkat cerita akhirnya abang tetap tidur dengan suami saya, dengan perjanjian, nanti kalau abang bangun, sudah ada bunda di samping abang.

Waktu berlalu dan sampailah waktu subuh, sekitar jam empat pagi. Saat itu abang terbangun karena mau pipis. Nah ketika dia bangun dan tidak mendapati saya di kamarnya, jadilah dia kesal sampai membanting pintu kamar sebagai pelampiasan. Lalu suami saya membangunkan saya dan saya menemani abang tidur kembali.

Masya Allah, benar-benar pengalaman berharga sekali buat saya. Kalau berjanji sama anak, sebisa mungkin harus saya catat atau membuat reminder. Karena saya tipikal orang yang cepat sekali lupa. Hehehehe.

Itu cerita anak sulung saya yang alhamdulillah berhasil untuk tidur di kamarnya sendiri, meskipun agak drama. Cerita anak kedua saya berbeda lagi.

Seharian kemarin, harusnya Adik Hizli belajar BAK dan BAB di toilet. Tapi sayang sekali, saya selalu tidak tepat membawanya ke toilet. Kadang saya terlalu cepat membawanya ke toilet, kadang saya kelamaan membawa ke toilet. Alhasil, ya Adik tetap pipis dan pup di pampers seharian kemarin.

Tapi ada cerita menarik kemarin. Ketika sedang sarapan pagi, tiba-tiba saja Adik bilang, "Bunda, adek makan sendiri, ya." Dan saya jawab, "Oke adek." Kemudian dia melanjutkan sarapannya.
Tahap kemandirian untuk makan sendiri memang saya masukkan ke dalam target kemandirian yang akan dicapai Adik dalam sebulan ke depan. Tak terduga, ternyata Adik sudah 'menagih'nya sekarang. Sebagai bahan pembelajaran juga untuk saya, apakah hari-hari selanjutnya akan melatih target kemandirian seperti yang sudah saya sebutkan di tulisan saya sebelum ini; ataukah targetnya akan berubah dan menyesuaikan keadaan.

Rest Area KM 57, Tol Cikampek
Di tengah perjalanan menuju Ciater
Karawang, 25 Februari 2017

#Level2
#MelatihKemandirian
#BunSayIIP

Wednesday, 22 February 2017

Belajar Jadi Digital Mommy

Bismillaahirrahmaannirahiim.

Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah SWT; karena dengan rahmat-Nya, saya masih diberikan nikmat sehat dan iman hingga saat ini.


Berbicara tentang blog pribadi, mungkin ini blog pribadi yang sudah kesekian kali saya buat. Entah sudah banyak berapa blog yang saya buat; dan entah sudah berapa banyak juga yang terbengkalai. Ya, memang masih menjadi PR besar saya dalam hal konsistensi melakukan sesuatu. Padahal, saya suka menulis. Sayangnya, manajemen waktu saya masih tergolong parah, kalau tidak mau dibilang kacau; dan konsistensi saya dalam melakukan sesuatu masih sangat rendah.


Qodarrullah saya mengikuti kelas Matrikulasi di Institut Ibu Profesional (IIP); dan sekarang, Alhamdulillah, saya sedang masuk ke tahapan kedua, kelas Bunda Sayang IIP. Dengan mengikuti kelas Matrikulasi dan Bunda Sayang, para peserta diberikan tugas yang 'sejibun' dan harus dikumpulkan sesuai dengan deadline. Yes, ini 'memaksa' saya untuk aktif menulis dan mengumpulkan tulisan-tulisan saya melalui media online. Naaah, karena itulah lahirlah blog ini. (Alhamdulillah, terima kasih IIP)


Untuk selanjutnya, saya berharapa semoga blog ini bisa terus konsisten merekam jejak perjalanan pembelajaran saya, dalam rangka memperbaiki kualitas diri saya sebagai pribadi, sebagai istri, dan juga ibu. Satu hal yang terpenting adalah: semoga blog ini bisa menjadi bermanfaat untuk para ibu pembelajar lainnya; sehingga Allah berkenan memberikan ridho, rahmat, dan surga-Nya bagi saya. Amiin. Wallahu'alam.


Kamis, 23 Februari 2017
Di pagi hari yang dingin, sambil menunggu anak-anak terbangun.
Tangerang.




source image: http://orbitislam.com/ways-to-enter-jannah/

Tugas Chukyuu 5

Komono Kitchen Hal yang dilakukan: 1.Mencuci piring dan peralatan masak setelah selesai masak 2.Mengelap cipratan minyak pada dinding da...