Showing posts with label ibu profesional. Show all posts
Showing posts with label ibu profesional. Show all posts

Friday, 7 April 2017

Family Project 5: Silaturahmi

Siang tadi, saya mengajak anak-anak berkunjung ke tetangga kami yang rumahnya berjarak satu rumah ke kiri. Sebelum mengajak anak-anak, saya jelaskan tujuan kami berkunjung dan peraturan selama kami berkunjung ke sana.

Saya bilang ke mereka: Hari ini kita akan bersilaturahmi ke rumah Kakak Fanny ya. Karena bundanya kakak Fanny baru saja melahirkan adik bayi. Tapi sebelum ke sana, kita ke toko perlengkapan bayi dulu ya. Kita mau beli kado buat adiknya kakak Fanny. Nanti selama dijalan dan di rumah kakak Fanny, abang sama adik tenang ya; supaya bunda bisa mengobrol dengan tenang sama bundanya kakak Fanny.

Singkat cerita akhirnya kami membeli kado dan berkunjung ke rumah Kakak Fanny. Setelah sampai di rumah kakak Fanny, alhamdulillah anak-anak bisa mematuhi peraturan yang saya berikan sebelumnya. Yaaa, walaupun satu atau dua kali masih harus diingatkan, seperti ketika abang tiba-tiba nyelonong ke dapur mereka dan naik-naik di sofa; atau adik yang tidak mau masuk ke dalam rumah, tapi malah main di dekat pagar.

Project ini sebenarnya sudah kami bicarakan sekitar tiga atau empat hari lal; ketika kami melihat tetangga kami tersebut sibuk dengan mobil mereka dan beberapa tas. Owh, mungkin sudah waktunya persalinan, batin saya saat itu. Lalu ketika malamnya kami persiapan mau tidur, saya cerita ke suami saya dan beliau bilang: Yawdah bun, nanti kalau Mama Fanny sudah pulang, ajak anak-anak berkunjung ke sana ya, bun. Sambil sebelumnya dijelaskan ke anak-anak tentang sunnah Rasulullah untuk berbuat baik kepada tetangga. Alhamdulillah niat tersebut bisa kami laksanakan hari ini.


#TantanganHari9
#GameLevel3
#MyFamilyMyTeam
#IIP

Tuesday, 28 March 2017

Family Project 2: Makan Siang Bersama

Alhamdulillah hari ini tanggal merah; sehingga suami saya tidak kerja. Jadilah proyek keluarga kami hari ini adalah "Makan Siang Bersama". Sebenarnya sangat sederhana sekali proyek ini; tapi esensi di dalamnya yang sangat istimewa. Karena dalam keseharian kami jarang sekali makan bersama. Bahkan ketika akhir pekan, dalam beberapa kali akhir pekan belakangan ini, saya dan suami selalu mengikuti seminar pengasuhan; jadilah kami kekurangan waktu untuk bersama. Maka pada siang hari yang cerah ini, kami jadikan sebagai moment untuk saling bersama dalam proyek makan bersama. Kira-kira beginilah proyek keluarga kami pada hari ini:

Family Project 2 : Makan Siang Bersama

Penanggung Jawab: Ayah

Pelaksana: Bunda, Javas, dan Hizli

Pembagian Tugas:
  • Bunda bertugas membeli makanan.
  • Javas bertugas menemani bunda beli makanan dan menyiapkan nasi ke meja makan
  • Ayah dan Hizli bertugas menyiapkan peralatan makan di meja makan.  
Alat dan Bahan: piring, sendok, makanan.  

Waktu Pelaksanaan: Selasa, 28 Maret 2017

Durasi Pelaksanaan: 1 hari

Hasil Pengamatan: 
Sebelum Pelaksanaan: Ide proyek keluarga kami kali ini, saya utarakan sebelum waktu makan siang. Hal ini terinspirasi karena suami saya sedang libur dan kami tidak ada agenda apa pun keluar rumah. Ketika saya menyampaikan ide tersebut kepada anak-anak dan suami, Alhamdulillah mereka menerimanya dengan senang dan semangat. Anak sulung saya, Javas, yang paling semangat karena dia mendapat tugas menemani saya beli makanan matang; berarti dia bisa ikut jalan-jalan sebentar ke luar rumah. Anak kedua saya, Hizli, juga semangat dengan rencana ini; tetapi dia sedikit bersedih karena kebagian tugas hanya di rumah dan menyiapkan piring bersama ayah. 

Saat Pelaksanaan: Javas senang sekali saya ajak keluar rumah untuk membeli masakan Padang. Walaupun cuaca siang tadi sangat panas dan terik, tetapi tidak menurunkan semangat Javas untuk menjalankan tugasnya. Akhirnya dia berinisiatif untuk membawa payung, supaya tidak kepanasan di jalan, katanya. Setelah sampai di rumah sepulang membeli makanan, saya segera menyiapkan nasi dengan dibantu Javas untuk membawakannya ke meja makan. Semua senang karena bisa menyiapkan makanan bersama untuk dinikmati bersama. Hanya saja ketika mulai makan, Javas dan Hizli tidak segera ikut makan bersama. Mereka bilang bahwa masih kenyang karena minum jus. Iya memang, sebelumnya Javas minum jus jeruk sunkist dan Hizli minum jus alpukat. Ya sudah, walaupun kami tidak bisa makan bersama secara harfiah, tetapi ketika waktu makan siang tadi, kami berada di waktu dan tempat yang sama. Ini benar-benar sangat istimewa bagi keluarga kami; mengingat kesibukan suami saya di luar rumah pada hari biasa; ditambah lagi kesibukan saya yang ikut seminar saat akhir pekan. 

Selesai Pelaksanaan: Selesai makan bersama, saya bersama suami dan anak-anak menghabiskan waktu di kamar tidur sambil menikmati dinginnya AC kamar. Di tengah kebersamaan kami, saya bertanya perasaan Javas saat menyiapkan moment makan bersama tadi. Javas bilang bahwa dia senang. Tapi besok lagi dia tidak mau ikut ke luar beli makanan, karena di luar sangat panas dan capek. Kalau Hizli, dia juga senang dan bilang bahwa dia mau ikut ke luar beli makanan; karena di rumah bosan. Hehehe. Ya sudah, kalau begitu, besok lagi bertukar peran saja. Sedangkan kalau suami saya, beliau jawab: besok lagi kita nge-Go Food aja, ya, Bun! Hehehe. Oke, Ayah! 

Berikut foto-foto kegiatan proyek keluarga kami hari ini: 


#TantanganHari2
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Thursday, 23 March 2017

Family Project 1: Membuat Teh

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya  kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sakali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkatan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS. Al-Isra: 23-24) 


Beberapa hari ini, dua ayat di atas menjadi pembelajaran dalam kegiatan homeschooling kami. Dalam keseharian, saya dan suami selalu mengulang-ulang membacakan ayat-ayat ini kepada kedua anak lelaki kami; sekaligus men-saounding beberapa aktivitas yang kami golongkan sebagai aktivitas 'berbakti kepada ayah bunda'. Qodarullah, materi yang disampaikan dalam kuliah Bunda Sayang IIP adalah membuat 'Family Project'. Jadilah kami membuat 'Family Project' pertama kami yang dilandasi oleh dua ayat di atas. Jadi beginilah detail 'Family Project' pertama kami: 

Family Project 1 : Membuat Teh untuk Berbuka Puasa

Penanggung Jawab: Bunda

Pelaksana: Javas dan Hizli

Pembagian Tugas:
  • Bunda bertugas menyiapkan alat dan bahan.
  • Javas dan Hizli bertugas membuat teh. 
  • Ayah dan Bunda bertugas mencicipi teh buatan Javas dan Hizli.  
Alat dan Bahan: dua gelas tinggi, dua sendok, dua kantong teh, gula pasir secukupnya, air panas, air biasa, nampan. 

Waktu Pelaksanaan: Kamis, 23 Maret 2017 (saat Ayah puasa sunnah dan Bunda puasa bayar hutang Ramadhan)

Durasi Pelaksanaan: 1 hari

Hasil Pengamatan: 
  • Sebelum pelaksanaan 'Family Project': Pembicaraan mengenai Family Project kami ini dilakukan pada malam sebelumnya ketika menjelang waktu tidur. Pembicaraan itu terjadi begitu saja dan ide pun muncul secara tiba-tiba. Qodarullah memang saya dan suami ingin melaksanakan puasa pada hari kamis, juga kami sedang membahas dua ayat dalam Al-Quran tentang adab terhadap orang tua; jadilah kami mengambil ide yang sederhana, namun cukup esensial bagi pembelajaran anak-anak kami. Saat pembicaraan rencana project tersebut, Javas dan Hizli menyambut dengan gembira. Tentu mereka gembira, karena teh adalah minuman kesukaan mereka dan sehari-hari kalau yang namanya kegiatan eksplorasi dengan makanan (cooking experience); mereka pasti akan sangat antusias sekali. 
  • Saat pelaksanaan 'Family Project': Ketika pelaksanaan cukup banyak kehebohan terjadi dan beberapa hal yang di luar perencanaan. Kehebohan sudah mulai muncul ketika menjelang adzan maghrib. Saat itu saya belum mandi dan peralatan untuk membuat teh belum disiapkan, termasuk belum ada air panas karena kami tidak menggunakan termos air panas di rumah; anak-anak pun bertanya-tanya, "Bunda, kapan bikin teh nyaaaa? Ini udah mau maghrib lho..." Hal yang terjadi di luar rencana adalah karena suami saya belum pulang dan dia lembur. Jadilah kami hanya bertiga saja mengerjakan project ini. Alhamdulillah anak-anak tetap senang menjalani project ini. Hal itu terlihat dari antusiasme mereka dalam melakukan segala hal yang diinstruksikan; bahkan sebelum diinstruksikan pun mereka sudah berinisiatif untuk melakukannya. Contohnya seperti Javas yang sudah langsung menuangkan gula padahal teh nya belum terlalu larut di gelasnya. Juga Hizli yang langsung mencicipi tehnya, padahal belum dituangkan air biasa ke dalam gelas, sehingga Hizli kepanasan saat mencicipinya. 
  • Setelah pelaksanaan 'Family Project': Menjelang waktu tidur, ketika suami saya sudah pulang, barulah kami membahas lagi tentang project pertama keluarga kami. Saya bertanya perasaan anak-anak saat membuat teh dan mereka menjawab bahwa mereka sangat senang. Bahkan kata Javas, besok-besok kalau Ayah dan Bunda puasa lagi, dia yang mau membuatkan teh dan memberikannya ke Ayah dan Bunda. Hizli pun demikian. Dia merasa senang karena bisa ikut menyiapkan minuman berbuka puasa, walaupun rasa teh nya masih kurang manis. Hehehe. Lalu saya bertanya kepada mereka, bagaimana perasaan mereka karena ayah pulangnya telat. Dan mereka jawab, "Ya nggak apa-apa. Kan tehnya jadi aku yang minum." Hahaha. Kontan jawaban ini membuat saya dan suami tertawa.
Evaluasi: 
Berdasarkan hasil pengamatan di atas, sejatinya kegiatan Family Project kami haruslah dihadiri lengkap oleh seluruh anggota keluarga. Karena kalau saja ada satu anggota keluarga yang tidak lengkap, maka akan terjadi kehebohan dan kerepotan yang di luar dugaan. Selain itu, saya pun mengerti bahwa untuk keluarga kami, tidak perlu project yang terlalu ribet dan membutuhkan banyak biaya. Bahkan project sederhana dengan biaya yang murah, asalkan sesuai dengan target pendidikan dan pengasuhan, bisa saja langsung kami lakukan. 

Berikut adalah foto-foto kegiatan kami:









Selesai

#TantanganHari1
#Level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunsayIIP

Friday, 10 March 2017

Latihan Kemandirian (10)

Fiiiiuuuhhh... akhirnya sampai juga di tulisan ke-10 tentang Latihan Kemandirian pada Game Level 2 dari kuliah Bunda Sayang IIP. Tulisan ke-10 ini bukan berarti akhir dari tulisan-tulisan saya selanjutnya tentang latihan kemandirian. Karena saya sangat sadaaaar sekali bahwa masih banyak kekurangan saya dalam hal melatih kemandirian anak-anak. Dengan adanya 'tugas' dari IIP untuk menuliskan tentang praktek latihan kemandirian pada anak-anak, juga diri saya sendiri sebetulnya, menjadikan saya lebih aware dalam hal mendokumentasikan pencapaian-pencapaian yang sudah dilakukan anak-anak. Hanya saja, saya menyadari bahwa dalam 10 tulisan saya dari kemarin hingga sekarang, masih sangat banyak kekurangan dan tambal sulam. Terlebih lagi, tentang target dan praktik kemandirian itu sendiri.

Oke, jadi di tulisan ke-10 ini, saya tidak akan melaporkan tentang praktek latihan kemandirian anak-anak seperti yang sudah saya tulis sebelumnya. Tapi kali ini, justru saya akan melaporkan bagaimana hasil observasi, kelebihan, dan kekurangan dalam praktek latihan kemandirian tersebut.

Menurut hasil pengamatan saya, berdasarkan target kemandirian yang sudah saya tentukan di tulisan ke-1, maka saya melaporkan bahwa:
1. Latihan kemandirian untuk Javas tidur sendiri di kamarnya, sudah bisa dikatakan lulus. Karena sudah tidak ada kendala lagi dalam memintanya untuk pindah tidur ke kamarnya. Karena kalau biasanya dia selalu tidak mau, sekarang dia selalu mau. Walaupun memang, masih harus ditemani dulu awalnya, nanti kalau sudah lelap, baru ditinggal. Saya rasa ini tidak masalah, karena ini bagian dari adaptasi. Hanya saja saya menemukan beberapa tantangan lanjutan untuk memantapkan latihan kemandirian ini, seperti: token listrik yang boros kalau semua AC harus nyala saat malam, token listrik yang tidak cukup untuk menyalakan dua AC semalaman, dan keadaan kamar Javas yang masih sering jadi tempat nyamuk bersembunyi. Di samping itu, ada juga tantangan lain yang secara tidak langsung berkaitan dengan latihan kemandirian ini, seperti: waktu tidur malam dan bangun pagi yang belum konsisten dan waktu penggunaan AC yang belum terjadwal.

2. Latihan kemandirian untuk Hizli membuka dan menutup botol, sepertinya sudah menunjukkan hasil yang baik. Hizli sudah bisa membuka botol minumnya, tapi terkadang masih sering lupa menutup dengan rapat, sehingga sering tumpah. Untuk botol-botol yang terlalu rapat menutupnya, Hizli masih membutuhkan bantuan orang lain untuk membukanya. Lalu untuk latihan toilet training, Hizli belum berhasil melakukannya; dan kesimpulannya, untuk latihan TT ini masih harus di-pending selama sebulan dan diisi dengan hypnotherapy selama sebulan tersebut. Kalau dalam hal latihan TT ini, saya menyadari bahwa ada peran saya juga yang menyebabkan Hizli belum berhasil. Misalnya, saya belum konsisten men-sounding Hizli untuk BAK dan BAB di kamar mandi, saya masih suka lupa jadwal Hizli BAK, dan kadang kalau fisik saya sedang lelah, saya lebih memilih memakaikan pospak kepada Hizli. Semoga untuk selanjutnya, semua kekurangan ini bisa saya perbaiki dan tercatat dengan runut dalam catatan latihan kemandirian anak-anak saya.

Akhirnya, dari hasil latihan dan laporan selama 10X ini, saya bisa memetik banyak pelajaran untuk diri saya sendiri, yaitu:
1. Saya harus lebih konsisten dalam melaksanakan praktek sesuai dengan target.
2. Saya harus bisa mengkomunikasikan target-target pencapaian itu dengan suami; supaya kami bisa mencapainya bersama.
3. Saya harus lebih tegas dan tega ke anak-anak dalam hal praktek kemandirian; selama ke-tegasan dan ke-tega-an itu sesuai dengan tumbuh kembangnya.

Saya berharap, laporan-laporan ini bisa terus saya lanjutkan dan saya rapikan lagi; sehingga nantinya bisa saya gunakan sebagai portofolio perkembangan anak-anak saya.


Tangerang, Sabtu Pagi, 11 Maret 2017

#Level2
#LatihanKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Thursday, 23 February 2017

Target Latihan Kemandirian Anak (1)

YEEEEAAAAAYYYY.....

Rasanya ingin meneriakkan kata itu sekeras mungkin!! Kenapa?? Karena alhamdulillah saya, bersama keluarga, memasuki tantangan selanjutnya dari kuliah Bunda Sayang IIP. Setiap mengerjakan tantangan dari IIP, saya merasa, bukan hanya saya saja yang ditantang; tetapi juga seluruh anggota dalam keluarga kecil saya.


Oke, tantangan kali ini adalah tentang melatih kemandirian, boleh kemandirian untuk anak, diri sendiri, atau pun berdua dengan pasangan.


Bismillahirrahmaannirrahiim, saya akan mengambil kategori latihan kemandirian untuk anak. Karena itu, maka saya sudah membuat target kemandirian apa saja yang akan saya latih kepada kedua anak lelaki saya. Target tersebut adalah sebagai berikut.


Target Kemandirian Si Abang Javas:
1. Berlatih tidur sendiri di kamar (periode latihan: 23 Februari - 1 Maret 2017)
2. Berlatih wudhu 2x sehari dan shalat/tidak mengganggu orang shalat (periode latihan: 2 Maret - 8 Maret 2017)
3. Berlatih makan sendiri 2x sehari (periode latihan: 9 Maret - 15 Maret 2017)
note: selama ini Abang Javas sudah latihan makan sendiri, tapi hanya setiap sarapan saja. Jadi pada kesempatan kali ini, latihan makan sendiri tersebut akan ditambah intensitasnya.
4. Berlatih bangun tidur dan matikan AC jam 07.00 (periode latihan: 16 Maret - 22 Maret 2017)


Target Kemandirian Si Adik Hizli:
1. Berlatih membuka dan menutup botol (periode latihan 23 Februari - 1 Maret 2017)
2. Berlatih BAK/BAB di kamar mandi (periode latihan 2 Maret - 8 Maret 2017)
3. Berlatih mengembalikan/merapikan mainan ke tempatnya (periode latihan 9 Maret - 15 Maret 2017)
4. Berlatih memegang sendok dan menyuap makanan sendiri (periode latihan 16 Maret - 22 Maret 2017)


Nah, karena ketika saya menulis ini waktu sudah menunjukkan pergantian hari, maka saya akan membuat sedikit laporan/narasi dari masing-masing target kemandirian anak-anak yang sudah dijalani seharian ini.

Berlatih tidur sendiri untuk Abang Javas:
Latihan untuk tidur sendiri sebenarnya sudah saya sounding cukup lama kepada Javas. Tapi entah kenapa, baik saya maupun suami, rasanya masih 'ogah' untuk benar-benar meng-eksekusi rencana ini. Karena bagi kami, kalau Javas tidur sendiri di kamarnya, berarti daya listrik untuk AC jadi dobel, AC kamar utama nyala, dan AC kamar anak pun nyala.

Sampai akhirnya sekitar dua hari lalu, Javas demam tanpa sebab. Batin saya, ini anak demam, biasanya kalau habis demam, pasti ada kecerdasan atau kemandirian yang ter-upgrade. Kira-kira kali ini, kecerdasan atau kemandirian apa lagi, yang Allah upgrade-kan kepada Javas?

Benar saja, satu hari setelah demamnya reda, tepatnya hari Senin lalu, ketika waktu tidur tiba, Javas bilang: "Bun, aku mau tidur sendiri di kamarku. Tapi temenin dulu ya, sama ayah. Nanti kalau aku sudah tidur, baru ditinggal."

WOW... saya dan suami hanya bisa berpandangan. Dan tepat hari Senin malam, tanggal 20 Februari lalu, itu adalah hari pertama Javas mau untuk tidur sendiri. Alhamdulillah kegiatan tersebut berlangsung sampai dua hari setelahnya, yaitu sampai Rabu malam tanggal 22 Februari 2017.

Tantangan pertama muncul pada malam ini, tanggal 23 Februari 2017. Javas tiba-tiba saja susah sekali untuk terlelap, padahal suami saya sudah menemani, bahkan dia terlelap duluan. Tapi akhirnya Javas keluar kamar dan menghampiri saya di kamar. Dia memeluk saya dan bilang: "Aku mau bobo di sini dulu ya, malam ini, bun." Saya membalas, "Owh, mau bobo di sini?? Lagi kangen bobo sama bunda, ya??" Javas mengangguk. Saya meneruskan, "Boleeeh. Tapi, besok bobo sendiri lagi di kamar ya? Besok bunda yang temenin deh, di kamar abang." Akhirnya, kami pun tidur bersama. Semoga besok keadaan Javas lebih kondusif, sehingga bisa melanjutkan latihan kemandiriannya untuk tidur sendiri.


Berlatih BAK/BAB di kamar mandi untuk Adik Hizli:
Kalau boleh melihat pengalaman sewaktu Javas seumur Hizli, rasanya Javas bisa lebih dulu mandiri dalam hal BAK/BAB di kamar mandi. Sewaktu Javas seumur Hizli, dia sudah bisa bilang untuk BAK dan BAB di kamar mandi. Tapi sekarang, Hizli masih bergantung dengan pampers. Mungkin ini datang dari saya yang kurang serius melatih Hizli untuk melepas pampersnya.

Tapi seharian ini, alhamdulillah saya membulatkan tekad untuk segera melatih toilet training untuk Hizli. Hal ini dimulai dengan saya sounding ke Hizli, "Dek, kalau pipis di kamar mandi, ya. Kalau mau 'ee di WC, ya."

Satu jam sehabis mandi pagi, saya periksa pampers Hizli dan ternyata masih kosong. Kemudian buru-buru saya ajak Hizli ke kamar mandi, agar di pipis. Setelah saya membuka pampersnya, ternyata ada sedikit noda kotoran di pampers bagian belakang. Lalu saya bilang, "Adek mau 'ee juga ya??" Hizli jawab, "Nggak kok, adek perutnya sakit." Batin saya, wah, jangan-jangan mau BAB nih. Alhasil, saya angkat Hizli ke kamar mandi dan menjongkokkannya di WC.

Beberapa menit berlalu dan Hizli tak kunjung BAB. Ya sudah, saya bersihkan dia, dan ganti pampers yang baru. Tidak lupa saya sounding: Dek, kalau mau 'ee, di WC ya. Kalau mau 'ee, adik pegang pantat dan bilang bunda, ya. Hizli menjawab, "Iya, bunda."

Waktu berlalu dan kami bertiga pun main, bercerita, dan melakukan kegiatan seperti biasa. Saya lupa bahwa saya punya tugas untuk mengecek apakah Hizli mau BAK/BAB setiap satu jam. Kemudian, saya mencium aroma tidak sedap ketika kami sedang membaca buku. Dan baru saya teringat, "Wah, adik Hizli 'ee ya??" Saya cek pampersnya dan benar saja ternyata dia BAB. Ya sudah, langsung saya bersihkan dan ganti pampers. Tidak lupa, saya pun men-sounding-nya lagi, untuk BAK dan BAB di kamar mandi.

Untuk latihan kemandirian Hizli hari pertama, saya simpulkan bahwa saya belum berhasil. Hal itu karena saya lupa mengangkat Hizli untuk segera ke kamar mandi. Semoga besok bisa lebih ingat dan berhasil. Mampukan hamba, Ya Allah.


Oke, sekian narasi yang bisa saya berikan untuk pencapaian latihan kemandirian tertergat bagi anak-anak. Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi saya; dan bermanfaat bagi orang lain.


#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#Hari1


Dini hari, 02.00 WIB, 24 Februari 2017,
Ditemani ketiga lelaki kebanggaan saya yang sedang terlelap,
Tangerang.

Wednesday, 22 February 2017

Belajar Jadi Digital Mommy

Bismillaahirrahmaannirahiim.

Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah SWT; karena dengan rahmat-Nya, saya masih diberikan nikmat sehat dan iman hingga saat ini.


Berbicara tentang blog pribadi, mungkin ini blog pribadi yang sudah kesekian kali saya buat. Entah sudah banyak berapa blog yang saya buat; dan entah sudah berapa banyak juga yang terbengkalai. Ya, memang masih menjadi PR besar saya dalam hal konsistensi melakukan sesuatu. Padahal, saya suka menulis. Sayangnya, manajemen waktu saya masih tergolong parah, kalau tidak mau dibilang kacau; dan konsistensi saya dalam melakukan sesuatu masih sangat rendah.


Qodarrullah saya mengikuti kelas Matrikulasi di Institut Ibu Profesional (IIP); dan sekarang, Alhamdulillah, saya sedang masuk ke tahapan kedua, kelas Bunda Sayang IIP. Dengan mengikuti kelas Matrikulasi dan Bunda Sayang, para peserta diberikan tugas yang 'sejibun' dan harus dikumpulkan sesuai dengan deadline. Yes, ini 'memaksa' saya untuk aktif menulis dan mengumpulkan tulisan-tulisan saya melalui media online. Naaah, karena itulah lahirlah blog ini. (Alhamdulillah, terima kasih IIP)


Untuk selanjutnya, saya berharapa semoga blog ini bisa terus konsisten merekam jejak perjalanan pembelajaran saya, dalam rangka memperbaiki kualitas diri saya sebagai pribadi, sebagai istri, dan juga ibu. Satu hal yang terpenting adalah: semoga blog ini bisa menjadi bermanfaat untuk para ibu pembelajar lainnya; sehingga Allah berkenan memberikan ridho, rahmat, dan surga-Nya bagi saya. Amiin. Wallahu'alam.


Kamis, 23 Februari 2017
Di pagi hari yang dingin, sambil menunggu anak-anak terbangun.
Tangerang.




source image: http://orbitislam.com/ways-to-enter-jannah/

Tugas Chukyuu 5

Komono Kitchen Hal yang dilakukan: 1.Mencuci piring dan peralatan masak setelah selesai masak 2.Mengelap cipratan minyak pada dinding da...